kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.975   83,00   0,46%
  • IDX 6.128   26,71   0,44%
  • KOMPAS100 800   4,45   0,56%
  • LQ45 603   4,39   0,73%
  • ISSI 213   0,81   0,38%
  • IDX30 341   2,96   0,88%
  • IDXHIDIV20 416   3,91   0,95%
  • IDX80 91   0,42   0,46%
  • IDXV30 112   0,97   0,88%
  • IDXQ30 109   1,19   1,10%

Gejolak harga minyak belum picu inflasi


Senin, 28 Februari 2011 / 16:36 WIB
ILUSTRASI. Nasabah bertransaksi menggunakan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank BRI./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/17/06/2019.


Reporter: Dwi Nur Oktaviani | Editor: Edy Can

JAKARTA. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Armida S. Alisjahbana mengatakan, gejolak harga minyak mentah belum memicu terjadinya inflasi. Sebab, dia melihat, harga beberapa komoditas pangan belum mengalami peningkatan.

Sebaliknya, Armida menilai, harga komoditas pangan justru mulai surut karena memasuki masa panen. “Jadi belum tentu inflasi akan lebih tinggi lagi gara-gara kenaikan minyak dunia. Inflasi kan banyak faktornya,” imbuhnya, Senin (28/2).

Karena itu, dia yakin, pada Februari ini inflasi tidak akan setinggi bulan-bulan sebelumnya. Sebelumnya, Januari lalu, laju inflasi sebesar mencapai 0,89%.

Armida mengakui, gejolak harga minyak mentah memang menyulitkan. Bila harganya terus bergerak di atas US$ 110 per barrel, dia menduga, DPR akan mengevaluasi asumsi makro dan target dalam APBN 2010. "Tetapi kalau situasi ini begini terus bisa saja setelah triwulan pertama," katanya.

Asal tahu saja, harga minyak mentah terus bergejolak seiring krisis politik di Timur Tengah dan Afrika Utara. Harga untuk kontrak pengiriman April mendatang sudah naik 2,1% menjadi US$ 99,96 per barel di New York Mercantile Exchange.

Karena itu Armida berharap, kerusuhan di Timur Tengah bisa kembali normal dan stabil. “Kalau situasi normal kan mudah-mudahan harga minya turun,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×