kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Kebebasan Pers, Menyoroti Swasensor dan Kekerasan Terhadap Wartawan


Selasa, 10 Februari 2026 / 15:51 WIB
Kebebasan Pers, Menyoroti Swasensor dan Kekerasan Terhadap Wartawan
ILUSTRASI. kekerasan wartawan (DOK/REUTERS)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kekerasan terhadap wartawan masih berlanjut. Meski begitu, Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 mencatat, skor IKJ 2025 berada di level 59,5. Masuk kategori agak terlindungi, turun sekitar 0,9–1 poin dari 2024.

Hasil tersebut diungkap dalam peluncuran IKJ 2025 oleh Yayasan Tifa, Konsorsium Jurnalisme Aman, dan Populix.

Direktur Eksekutif Yayasan Tifa, Oslan Purba menegaskan pentingnya indeks ini bagi kebebasan pers. “Indeks ini penting untuk memastikan jurnalis bekerja dengan aman, agar hak masyarakat untuk mendapatkan informasi bisa terpenuhi,” kata Oslan, dalam keterangannya, Senin (9/2). 

Survei Populix dilakukan terhadap 655 jurnalis aktif di 38 provinsi pada November–Desember 2025. Manajer Policy and Society Research Populix, Nazmi Tamara menyebut, riset ini memetakan persoalan keselamatan jurnalis dari berbagai sisi.

“Kami ingin melihat masalah yang dihadapi jurnalis, baik dari individu, perusahaan media, hingga faktor eksternal seperti regulasi dan peran negara,” ujar Nazmi.

Baca Juga: Istana Kembalikan ID Pers Istana Wartawan CNN yang Sebelumnya Dicabut

Penurunan paling tajam terjadi pada pilar individu jurnalis. Sebanyak 67% responden mengaku pernah mengalami kekerasan, meningkat signifikan dari sekitar 40% pada 2024. Bentuk kekerasan paling dominan berupa pelarangan pemberitaan dan liputan.

Riset juga mencatat, meningkatnya praktik sensor dan swasensor. Sebanyak 72% jurnalis mengalami sensor,. Sementara 80% mengaku melakukan swasensor, terutama demi menghindari konflik dan menjaga keselamatan.

Anggota Dewan Pers, Abdul Manan mengingatkan dampak sensor terhadap hak publik. “Jika sensor dan represi dibiarkan, yang paling dirugikan adalah publik karena kehilangan hak atas informasi,” katanya.

Selanjutnya: Free float, MSCI dan Valuasi: Tanya Jawab bersama Agus Salim Pangestu

Menarik Dibaca: Katalog Promo Indomaret Minyak Goreng Hemat 10-11 Februari 2026, Mulai Rp 29.000-an

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×