kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Fraksi PAN tolak hak menyatakan pendapat


Jumat, 23 November 2012 / 22:09 WIB
ILUSTRASI. Karyawan melayani nasabah Mandiri Tunas Finance di MTF Costumer Experience Lounge, Jakarta, Jumat (2/7). KONTAN/Carolus Agus Waluyo/02/07/2021.


Reporter: Dea Chadiza Syafina | Editor: Edy Can

JAKARTA. Fraksi Partai Amanat Nasional menolak wacana penggunaan hak menyatakan pendapat terkait skandal Bank Century. Ketua Fraksi PAN Tjatur Sapto Edi beralasan Wakil Presiden Boediono belum tentu terlibat dalam kasus tersebut.

Menurutnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih mendalami keterlibatan Boediono dalam kasus tersebut. Karena itu, dia mengatakan, pengunaan hak menyatakan pendapat itu belum saatnya. "Penggunaan hak menyatakan pendapat harus dikaji sangat dalam karena akan menjadi sejarah peradaban bangsa," ungkap Tjatur melalui pesan singkat yang diterima wartawan pada Jumat (23/11).

Tjatur mengatakan, penggunaan hak menyatakan pendapat yang dimiliki oleh Dewan Perwakilan Rakyat itu dapat berujung pada pemakzulan terhadap Boediono. Karena itu, menurut Tjatur, DPR harus berhati-hati dalam penggunaanya.

Wacana penggunaan hak menyatakan pendapat juga ditentang sejumlah fraksi.  Selain PAN, fraksi PDIP, Partai Demokrat, Partai Gerindra dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga menolak. Saat ini, fraksi yang mendukung penggunaan hak tersebut adalah Golkar. Sementara itu, PKS mengaku belum memutuskan sikap.

Wacana penggunaan hak menyatakan pendapat kembali muncul di DPR setelah KPK sempat menyatakan tidak dapat memproses hukum mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono karena saat ini menjadi wakil presiden. Padahal, Ketua KPK Abraham Samad mengungkapkan, ada peran Boediono dalam skandal tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×