kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45679,48   7,34   1.09%
  • EMAS916.000 -1,08%
  • RD.SAHAM 0.54%
  • RD.CAMPURAN 0.26%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Fakta Risma dibujuk ramaikan Pilkada DKI Jakarta 2022 dan bantah bertemu Megawati


Jumat, 02 Agustus 2019 / 10:55 WIB
Fakta Risma dibujuk ramaikan Pilkada DKI Jakarta 2022 dan bantah bertemu Megawati

Sumber: Kompas.com | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta memang baru akan digelar pada tahun 2022 mendatang. Namun, keriuhan Pilkada DKI sudah terasa sejak Wali Kota Surabaya ditawarkan untuk maju di Pilkada DKI Jakarta.

Keinginan memboyong Risma ke ibu kota itu muncul setelah Ketua Fraksi Nasdem DPRD DKI Jakarta Bestari Barus menyatakan keinginannya agar Risma pindah ke Jakarta.

Baca Juga: Polemik pengelolaan sampah ibu kota, ini penjelasan Risma

Hal itu disampaikan Bestari saat DPRD DKI Jakarta melakukan studi banding untuk menyelesaikan Peraturan Daerah (Perda) tentang Pengelolaan Sampah dengan konsep Intermediate Treatment Facility (ITF) di Ruang Sidang Wali Kota, Balai Kota Surabaya, Senin (29/7/2019) lalu.

Munculnya nama Risma dalam bursa bakal calon Gubernur DKI Jakarta mendapat tanggapan positif dari para pengamat, di mana Risma dinilai punya modal awal karena menguasai tata kelola kota dan pengelolaan lingkungan yang baik.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Risma mengatakan, saat ini dia hanya fokus untuk menangani permasalahan yang terjadi di Kota Surabaya. Apalagi, masa kerjanya masih berlanjut hingga 2020 mendatang.

Berikut ini fakta lengkapnya:

1. Fokus menangani permasalahan di Surabaya

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, hingga saat ini dia tidak memiliki keinginan sama sekali untuk menjadi kepala daerah di tempat lain. Risma mengatakan, saat ini dia hanya fokus untuk menangani permasalahan yang terjadi di Surabaya.

Baca Juga: Bestari dorong Risma ikut Pilkada DKI 2022, ini kata Sekjen PDI-P

Apalagi, masa kerjanya masih berlanjut hingga 2020 mendatang. “Saya tidak ada kewenangan ngomong itu, karena saya masih konsentrasi di Surabaya,” kata Risma saat berkunjung ke Menara Kompas, Jakarta, Rabu (31/7/2019).

2. Tidak mudah mengelola suatu daerah

Menurut Risma, mengelola suatu daerah tidak mudah, karena harus memperhatikan seluruh warga di dalamnya. Apabila terjadi sesuatu kepada masyarakat, menurut Risma, maka kepala daerah dapat dimintai pertanggungjawaban.

“Saya tidak ada kepengin. Tidak boleh. Di pikiran saya itu harus saya tipe-ex kalau ada kepengin, karena ini nafsu. Tidak boleh ada nafsu jadi pemimpin, karena berat itu,” kata Risma.

3. Bantah bertemu Ketum PDI-P

Menurut Risma, hingga saat ini tidak ada permintaan dari siapapun untuk memimpin daerah lain. Risma juga membantah isu yang menyebut bahwa ia sudah bertemu Ketua Umum PDI Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri untuk membicarakan persoalan tersebut.

Baca Juga: Walkot Surabaya Tri Rismaharini "senyum" saat diminta maju jadi Gubernur DKI Jakarta

“Enggak ada, apalagi minta, enggak ada. Aku enggak ketemu (Megawati) sama sekali," kata Risma.

4. Kejutan bagi warga Jakarta

Direktur Surabaya Survei Center (SSC) Mochtar W Oetomo yang juga pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengatakan, munculnya nama Risma dalam bursa bakal calon gubernur DKI Jakarta adalah sesuatu yang menarik.

Apabila Risma benar akan maju di Pilkada DKI 2022 mendatang, kata Mochtar, itu akan memberikan alternatif sekaligus kejutan bagi warga Jakarta.

"Karena ini akan melahirkan kompetisi politik yang liat, cerdas dan visioner di Pilkada DKI 2022. Jika benar Risma running, bisa saja Risma membuat kejutan yang akan sulit dibendung," kata Mochtar, Rabu (31/7).

Baca Juga: Andai Risma mengelola sampah Jakarta, ini yang akan dia lakukan

5. Tantangan politik identitas di Jakarta

Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko Widodo menyampaikan, selain masalah lingkungan, ada sejumlah permasalahan besar lainnya yang harus dihadapi Risma jika ingin maju di Pilkada DKI Jakarta.

Salah satunya yakni sekat polarisasi politik atau derasnya politik identitas. Namun, Suko menilai, gaya, karakter, dan kepemimpinan Risma yang orisinal dan tegas akan menyambung sekat polarisasi politik identitas yang terjadi selama ini.

Baca Juga: Walkot Surabaya Risma: Sampah di DKI Jakarta menakutkan

"Risma itu punya orisinalitas dalam gaya kepemimpinannya. Ia punya komunikasi asertif yang cocok untuk warga metropolis. Karakternya yang unik, mampu menjaga jarak politik dan blak-blakkan bisa menyambung sekat polarisasi identitas pemilih Jakarta selama ini," ucap Suko. (Candra Setia Budi)

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Fakta Risma Dibujuk Ramaikan Pilkada Jakarta 2022, Fokus di Surabaya hingga Bantah Bertemu dengan Ketum PDI-P"

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×