kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.625   72,00   0,41%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Epidemiolog UI: Vaksin harus gratis dan dibiayai oleh negara


Senin, 14 Desember 2020 / 07:03 WIB
ILUSTRASI. Vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu malam, 6 Desember 2020


Reporter: Venny Suryanto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komisi IX DPR RI meminta agar vaksin virus corona (Covid-19) yang diberikan secara gratis ditambah jumlahnya. Saat ini perbandingan vaksin program yang gratis dengan vaksin mandiri sebesar 30% berbanding 70%.

Pada rapat kerja, Komisi IX meminta perbandingan tersebut di balik sehingga mayoritas vaksin diberikan secara gratis sebanyak 70%.

Salah satu epidemiolog FKM Universitas Indonesia Pandu Riono pun turut menolak terkait distribusi vaksin yang tidak gratis untuk seluruh rakyat.

“Seharusnya distribusi vaksin semuanya harus gratis dan sukarela. Tidak ada alasan untuk berbayar,” tegas Pandu saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (13/12).

Menurutnya, apabila vaksin Covid-19 dengan besaran hanya 30% kepada masyarakat dinilai bahwa pemerintah telah abai terhadap kebutuhan dan hak rakyat.

“Bila vaksinasi itu dianggap sebagai intervensi kesehatan publik untuk atasi pandemi Covid-19 maka harus dibiayai oleh negara. Sehingga tidak ada alasan apapun untuk berbayar,” tutupnya.

Selanjutnya: AS targetkan 100 juta warganya sudah diimunisasi vaksin Covid-19 di akhir Maret

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×