kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.723.000   -27.000   -0,98%
  • USD/IDR 17.771   30,00   0,17%
  • IDX 6.522   116,06   1,81%
  • KOMPAS100 849   15,70   1,88%
  • LQ45 641   8,52   1,35%
  • ISSI 230   4,91   2,18%
  • IDX30 358   4,21   1,19%
  • IDXHIDIV20 437   4,93   1,14%
  • IDX80 97   1,66   1,75%
  • IDXV30 122   1,89   1,57%
  • IDXQ30 114   1,08   0,96%

Ekonom: Tingkat inflasi 2022 meningkat, daya beli makin kuat


Kamis, 23 September 2021 / 19:30 WIB
ILUSTRASI. Inflasi tahun 2022 diproyeksi capai 3,1%


Reporter: Bidara Pink | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Mandiri memperkirakan, inflasi pada tahun 2022 akan lebih tinggi dari tingkat inflasi di tahun ini.

Asal tahu saja, Bank Mandiri memperkirakan, tingkat inflasi pada tahun 2021 sebesar 2,28% secara tahunan (yoy). Sementara, tingkat inflasi di tahun depan diproyeksi bisa berada di level 3,1% yoy.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan, peningkatan tingkat inflasi pada tahun depan dengan optimisme sudah adanya peningkatan daya beli masyarakat.

“Sudah ada optimisme peningkatan daya beli yang makin besar di tahun depan. Seperti kami lihat, permintaan naik akibat pelonggaran PPKM secara gradual,” jelas Faisal kepada Kontan.co.id, Selasa (21/9).

Seiring dengan peningkatan daya beli tersebut, Faisal juga melihat kenaikan tingkat inflasi disebabkan oleh normalisasi harga karena penghapusan insentif pajak. Ini nantinya akan mempengaruhi inflasi administered prices.

Baca Juga: ADB perkirakan inflasi 2021 akan di bawah target BI, ini kata ekonom

“Ada kemungkinan insentif pajak sudah kembali normal sehingga harga-harga akan meningkat bila dibandingkan dengan tahun ini,” tambah dia.  

Dengan melihat situasi tersebut, Faisal pun mengimbau pemerintah untuk tetap menjaga pasokan. Jangan sampai, adanya peningkatan permintaan tak sebanding dengan tingkat pasokan, sehingga ini akan membuat inflasi melambung tinggi.

Selain itu, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) juga harus mengantisipasi adanya imported inflation, karena di tahun depan akan makin menghangat terkait isu tapering off dari Amerika Serikat (AS) yang nantinya bisa mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Selanjutnya: Tapering bakal dimulai, The Fed berhenti beli US Treasury pada pertengahan 2022

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×