kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ekonom Permata Bank Memperkirakan BI Rate Naik Jadi 5% demi Stabilkan Rupiah


Selasa, 12 Mei 2026 / 13:50 WIB
Ekonom Permata Bank Memperkirakan BI Rate Naik Jadi 5% demi Stabilkan Rupiah
ILUSTRASI. BI dinilai masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate pada semester I-2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank Indonesia (BI) dinilai masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate pada semester I-2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus tertekan akibat gejolak global dan pelebaran defisit eksternal.

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini semakin besar seiring meningkatnya ketidakpastian global, arus modal keluar, hingga menyusutnya cadangan devisa nasional.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat BI perlu mempertimbangkan langkah pengetatan kebijakan moneter demi menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Baca Juga: Tekanan APBN Meningkat, Risiko Pembengkakan Belanja Prioritas Pemerintah Jadi Sorotan

"Kalau kita lihat, kita telah melakukan revisi bahwa di tahun 2026 itu, kemungkinan ruang kenaikan BI Rate itu ada," ujar Faisal dalam acara Media Briefing, Selasa (12/5/2026).

Ia memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5% pada semester pertama tahun ini, terutama jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

Faisal menjelaskan, hingga 11 Mei 2026, rupiah telah melemah sekitar 4,5% secara year-to-date dan sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS. Secara historis, pelemahan rupiah di atas 3% kerap direspons BI dengan kenaikan suku bunga.

"Karena biasanya kalau kita lihat secara historikal, biasanya BI itu kalau sudah rupiah melemah 3% ke atas, itu sudah ada potensi bisa kenaikan," katanya.

Selain tekanan nilai tukar, lanjutnya, kondisi neraca pembayaran Indonesia juga dinilai semakin rentan. Hal itu terlihat dari menyusutnya surplus neraca perdagangan dan meningkatnya potensi defisit transaksi berjalan atau current account deficit.

Baca Juga: Ekonom Ini Menilai Dunia Belum Menuju Krisis, Tapi Volatilitas Akan Bertahan Lama

Current account yang defisit itu harus dibayar dengan financial account yang surplus. Kalau dua-duanya defisit, maka cadangan devisa akan menurun. Dan itu yang terjadi saat ini," imbuh Faisal.

Permata Bank juga mencatat cadangan devisa Indonesia telah turun sekitar US$ 10,27 miliar sejak awal tahun menjadi US$ 146,2 miliar pada April 2026.

Di sisi lain, Faisal menilai tekanan inflasi ke depan juga masih perlu diwaspadai, terutama akibat kenaikan harga energi global dan potensi imported inflation jika rupiah terus melemah.

Meski inflasi domestik saat ini masih berada di bawah 3%, ia menilai risiko kenaikan harga tetap tinggi karena tekanan biaya di tingkat produsen mulai meningkat dan berpotensi diteruskan ke konsumen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×