kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.827.000   -10.000   -0,35%
  • USD/IDR 17.015   -2,00   -0,01%
  • IDX 7.120   28,23   0,40%
  • KOMPAS100 981   4,05   0,41%
  • LQ45 720   2,52   0,35%
  • ISSI 253   1,01   0,40%
  • IDX30 391   1,98   0,51%
  • IDXHIDIV20 490   1,15   0,24%
  • IDX80 111   0,48   0,44%
  • IDXV30 137   0,18   0,13%
  • IDXQ30 127   0,67   0,53%

Ekonom: Percepat Ekosistem Bus Listrik Nasional Bisa Jadi Solusi Hadapi Krisis Energi


Selasa, 31 Maret 2026 / 07:56 WIB
Ekonom: Percepat Ekosistem Bus Listrik Nasional Bisa Jadi Solusi Hadapi Krisis Energi
ILUSTRASI. Pengalihan konsumsi energi dari kendaraan pribadi ke transportasi publik berbasis listrik akan menghemat subsidi dan membangun industri hijau.(Tribunnews/Jeprima)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Momentum krisis energi global dinilai harus menjadi titik balik bagi Pemerintah Indonesia untuk merombak strategi transportasi nasional secara radikal. Salah satu langkah yang mendesak adalah pengalihan konsumsi energi dari kendaraan pribadi ke transportasi publik berbasis listrik (EV).

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menyatakan dukungannya terhadap kebijakan yang pro pada transportasi publik di daerah-daerah. Menurutnya, langkah ini krusial mengingat beban subsidi energi nasional mayoritas tersedot oleh pengguna kendaraan pribadi.

"Setuju, karena kendaraan pribadi mengonsumsi 50%-60% BBM nasional. Mendorong public transport, khususnya yang EV, akan banyak membantu," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (31/3/2026).

Baca Juga: Krisis Energi di Depan Mata, Subsidi Transportasi Publik Rp 1 Perlu Direalisasikan

Wijayanto juga mengamini usulan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) terkait penerbitan Instruksi Presiden (Inpres) untuk percepatan pembangunan transportasi umum. Menurutnya, hal ini harus menjadi gerakan nasional yang terkonsolidasi agar mencapai skala ekonomi yang efisien dan menarik bagi investor.

"Ini perlu menjadi gerakan nasional pengembangan public transport EV. Jika dilakukan secara nasional akan sangat menghemat, jika tiap daerah pesan 50 bus listrik, akan mahal, tetapi jika dikonsolidasikan secara nasional, misalnya 5.000 bus, akan jauh lebih murah," jelasnya.

Lebih lanjut, dengan skala sebesar itu, Wijayanto meyakini Indonesia mampu membangun kemandirian industri hijau di dalam negeri. 

Baca Juga: Hari Ini (31/3), Pemerintah Akan Mengumumkan Paket Kebijakan Mitigasi Risiko Global

"Bahkan produksi solar panel, bus listrik, dan seluruh ekosistem EV bisa dilakukan di Indonesia. Skala ekonomi yang besar, membuat investor tertarik. Jadi, kita harus gunakan momentum krisis energi ini untuk melakukan perubahan mindset, strategi dan kebijakan yang masif," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×