kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 16.902   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.302   195,28   2,75%
  • KOMPAS100 1.013   35,14   3,59%
  • LQ45 746   24,04   3,33%
  • ISSI 258   9,10   3,66%
  • IDX30 407   13,79   3,51%
  • IDXHIDIV20 510   21,50   4,40%
  • IDX80 114   3,88   3,53%
  • IDXV30 138   3,76   2,79%
  • IDXQ30 133   5,61   4,40%

Celios: Kebijakan WFH Bukan Solusi Utama untuk Hadapi Krisis Energi


Rabu, 25 Maret 2026 / 14:51 WIB
Celios: Kebijakan WFH Bukan Solusi Utama untuk Hadapi Krisis Energi
ILUSTRASI. Krisis Bahan Bakar Minyak (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengkaji penghematan energi melalui kebijakan Work From Home (WFH), pemerintah dinilai perlu mengambil langkah yang lebih mendasar. Alokasi subsidi transportasi publik dianggap lebih efektif untuk menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara nasional.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengungkapkan bahwa kebijakan WFH bukanlah solusi utama dalam menghadapi krisis energi. 

"Jawabannya bukan WFH untuk hemat BBM tapi alokasikan subsidi transportasi publik secara besar-besaran," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (25/3/2026).

Bhima menyarankan agar Indonesia mencontoh langkah negara lain yang telah berhasil memitigasi dampak krisis energi. Salah satunya adalah Spanyol yang memberikan insentif langsung kepada pengguna moda transportasi umum agar masyarakat beralih dari kendaraan pribadi.

Baca Juga: Timur Tengah Panas, Pemerintah Tegaskan Belum Ada Perubahan Penyelenggaraan Haji

"Spanyol tahun 2022 memberlakukan subsidi gratis untuk pengguna rutin transportasi publik. Tujuannya mengurangi efek krisis energi karena konflik Ukraina. Pemerintah bisa tiru Spanyol. Ada insentif masyarakat pakai transportasi publik tidak beli kendaraan BBM," terangnya.

Selain transportasi publik, Bhima menekankan pentingnya percepatan elektrifikasi kendaraan pribadi untuk memutus ketergantungan pada minyak mentah dunia. Ia merujuk pada Swedia yang kini memiliki ketahanan energi tinggi berkat adopsi kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) yang masif. 

"Swedia jadi negara yang imun terhadap gejolak minyak karena 61% porsi EV dari seluruh mobil baru," paparnya.

Di sisi lain, lanjut Bhima, mitigasi di sektor kelistrikan juga menjadi catatan krusial, terutama untuk daerah terpencil yang masih bergantung pada generator set (genset) bermesin diesel. 

"Di sektor pembangkit listrik yang masih pakai diesel, mitigasinya dengan gantikan ke panel surya. Daerah terpencil masih andalkan genset BBM, padahal memungkinkan percepatan 100 GW," pungkasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan pantauan di laman Trading Economics harga minya mentah (cruide oil WTI) hari ini berada di level US$ 89 per barel. Sementara, asumsi harga minyak mentah dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar US$ 70 per barel.

Baca Juga: Indonesia Dinilai Aman dari Krisis Energi Global, Edukasi dan Cadangan Jadi Kunci

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×