kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Ekonom: Pemerintah belum maksimal tekan impor sehingga defisit membengkak


Selasa, 15 Januari 2019 / 18:47 WIB


Reporter: Benedicta Prima | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Defisit neraca perdagangan sepanjang 2018 yang sebesar US$ 8,57 miliar merupakan defisit terparah sejak reformasi.  Di mata ekonom, defisit ini terjadi karena pemerintah belum maksimal menekan impor dan mendorong ekspor. 

Ekonom Center Of Reform on Economic (CORE) Indonesia  Mohamad Faisal melihat baik kebijakan menahan impor ataupun menggenjot ekspor masih belum efektif. Seperti B20, yang berlaku pada September lalu belum berdampak besar. Pun dengan pengenaan pajak pada barang konsumsi.

"Pertumbuhan barang konsumsi masih tetap tinggi, double digit, lebih tinggi dari barang modal," jelas Faisal saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (15/1).

Buktinya, pertumbuhan paling tinggi sepanjang 2018 terjadi pada barang konsumsi. Mengalami kenaikan hingga 22,03% dari US$ 14,08 miliar menjadi US$ 17,18 miliar.
Sedangkan barang modal naik 19,54%, dari US$ 25,06 miliar menjadi US$ 29,96 miliar.

Kebijakan menggenjot ekspor pun demikian sulit dilaksakana, sebab, menurut Faisal, hingga saat ini 55% ekspor masih tergantung pada komoditas mentah. "Belum besar terobosannya untuk mengubah ke struktur manufaktur," jelas Faisal.

Upaya pemerintah yang dimaksud antara lain menggulirkan berbagai kebijakan insentif untuk industri hasil ekspor, penyederhanaan ijin, menekan biaya logistik untuk daya saing, dan melakukan diversifikasi pasar.

Terkait ekspor dan impor non-migas, Faisal juga menjelaskan, seharusnya, saat harga minyak dunia naik, ekspor juga akan mengalami peningkatan bersamaan dengan impor. Sayangnya, Indonesia lebih banyak melaksanakan impor ketimbang ekspor.

"Kita lebih banyak impor. Ekspor kita lebih ke mentah, sehingga lebih murah. Itu sehingga defisit migas melebar," jelas Faisal.

Surplus pada non-migas yang terbilang lemah terutama karena turunnya harga minyak sawit, karet, dan batu bara.

Selain itu, pada sektor manufaktur mengalami pertumbuhan yang lambat sekitar 3,86% atau hanya senilai US$ 129,93 miliar dari US$ 125,10. Disebabkan perlambatan pertumbuhan dunia, utamanya negara mitra tujuan ekspor seperti Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).

BPS mencatat ekspor ke Tiongkok pangsanya 24,39%, hanya naik tipis dari tahun 2017 yang sebesar 21,35%. Pun ke AS, pangsa ekspor juga naik tipis dari 12,13% di tahun lalu menjdi 17,67% pada 2018 ini.

Tercatat, 1945 defisit hanya sebesar US$ 0,1 miliar, kemudian defisit lagi pada 2012 sebesarUS$ 1,7 miliar, sedangkan 2013 defisit US$ 4,08 miliar, kemudian tahun 2014 defisit US$ 2,20 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×