kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Ekonom Ini Ingatkan Bahaya Imported Inflation di Tengah Gejolak Global


Selasa, 12 Mei 2026 / 13:16 WIB
Ekonom Ini Ingatkan Bahaya Imported Inflation di Tengah Gejolak Global
ILUSTRASI. Inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor atau kerap disebut imported inflation menjadi ancaman baru bagi perekonomian Indonesia. (/)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA.  Inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor atau kerap disebut imported inflation menjadi ancaman baru bagi perekonomian Indonesia di tengah gejolak global yang masih berlangsung.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan, tekanan inflasi global mulai meningkat di sejumlah negara maju seiring kenaikan harga energi dan ketidakpastian geopolitik, terutama akibat konflik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut berpotensi merambat ke dalam negeri melalui kenaikan harga barang impor dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah Berpotensi Menambah Defisit APBN Rp 200 Triliun

Ia menjelaskan, inflasi di Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa telah menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini perlu diantisipasi karena dapat mempengaruhi harga barang yang dikonsumsi Indonesia dari pasar global.

"Lonjakan harga barang-barang impor ini pada akhirnya tentunya bisa berpengaruh kepada inflasi domestik karena rambatannya biasanya dikatakan sebagai imported inflation," ujar Josua dalam acara Media Brefing, Selasa (12/5/2026).

Josua mengatakan, tekanan imported inflation juga diperbesar oleh penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia. Pelemahan rupiah membuat biaya impor menjadi lebih mahal, terutama untuk bahan baku industri dan produk energi.

Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah dan Bank Indonesia agar inflasi domestik tetap terkendali tanpa mengganggu daya beli masyarakat.

"Yang menjadi krusial juga adalah bagaimana menjaga agar inflasi tetap terkendali di domestik," katanya.

Baca Juga: Rupiah Anjlok, Menkeu Aktifkan Bond Stabilization Fund untuk Cegah Dana Asing Kabur

Di sisi lain, Josua mengapresiasi langkah pemerintah yang masih mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sehingga tekanan inflasi domestik sejauh ini relatif terjaga.

Meski demikian, ia mengingatkan risiko kenaikan harga global tetap nyata dan dapat mempengaruhi ekonomi Indonesia dalam jangka menengah apabila konflik geopolitik terus berlanjut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×