kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.875   -25,00   -0,15%
  • IDX 8.013   77,56   0,98%
  • KOMPAS100 1.130   13,49   1,21%
  • LQ45 819   3,46   0,42%
  • ISSI 283   5,25   1,89%
  • IDX30 426   0,20   0,05%
  • IDXHIDIV20 512   -2,67   -0,52%
  • IDX80 126   1,21   0,97%
  • IDXV30 139   0,23   0,16%
  • IDXQ30 139   -0,40   -0,29%

Ekonom Indef : Pemerintah perlu perbaiki ICOR ke level 4


Jumat, 09 Agustus 2019 / 20:46 WIB
Ekonom Indef : Pemerintah perlu perbaiki ICOR ke level 4


Reporter: Grace Olivia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Salah satu isu yang disasar pemerintah dalam melakukan transformasi ekonomi Indonesia ialah menurunkan incremental capital-output ratio alias ICOR yang masih cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain.  

ICOR merupakan salah satu parameter yang dapat menunjukkan tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin kecil angka ICOR, biaya investasi yang harus dikeluarkan semakin efisien juga untuk menghasilkan output tertentu. 

Baca Juga: ICOR Indonesia masih tinggi, Menkeu: Kualitas pendidikan dan birokrasi jadi penyebab

Tahun 2014, ICOR Indonesia tercatat sebesar 5.5. Angka tersebut lumayan tinggi dibandingkan Vietnam 5,2, India 4,9, Malaysia 4,6, Thailand 4,5,dan Filipina 3,7. 

Namun, di saat rata-rata negara Asia Tenggara mengalami penurunan ICOR ke kisaran 3-4, Indonesia justru mencatat ICOR lebih tinggi yaitu menyentuh 6,3 pada 2018. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, tingginya ICOR menjadi masalah bagi Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. “Untuk konteks Indonesia, idealnya ICOR bisa di bawah 4,” ujar Bhima, Jumat (9/8). 

Bhima berpendapat, ada beberapa hal yang menjadi kunci untuk menurunkan biaya berinvestasi di Indonesia.

Baca Juga: Pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan, pemerintah masih sulit turunkan ICOR

Pertama, melalui pembangunan infrastruktur yang tepat sasaran untuk menurunkan biaya logistik yang umumnya masih sangat tinggi. Bhima mencatat, biaya logistik yang mencapai 24% dari PDB menjadi beban utama tingginya ICOR saat ini.

Kedua, pemerintah mesti serius memberantas korupsi, pungutan liar, dan segala bentuk inefisiensi birokrasi. Budaya birokrasi demikian, membuat proses berbisnis dan berinvestasi di Indonesia jauh lebih rumit dan mahal dibandingkan dengan negara lain. 

“Ketiga, pemerintah meningkatkan koordinasi antara tingkat pusat dan daerah sehingga hambatan-hambatan investasi akibat kurang sinkronnya regulasi bisa berkurang,” lanjut Bhima. 

Terakhir, pemerintah mesti mendorong realisasi investasi. Bhima mengatakan, salah satu penyebab tingginya ICOR ialah lambatnya realisasi komitmen investasi oleh para investor. Pembebasan lahan untuk pembukaan pabrik baru, misalnya, bisa memakan waktu panjang 5-10 tahun.

“Ini yang pemerintah harus bantu, dari mulai proses pembebasan lahan, sampai keluhan lain yang membuat investor masih tunda pengerjaan proyek investasinya,” ujar Bhima. 

Baca Juga: Chatib Basri: Produktivitas yang rendah menjadi isu penghambat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×