kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.863.000   45.000   1,60%
  • USD/IDR 17.144   14,00   0,08%
  • IDX 7.676   175,76   2,34%
  • KOMPAS100 1.063   25,24   2,43%
  • LQ45 764   17,96   2,41%
  • ISSI 277   5,37   1,98%
  • IDX30 406   7,07   1,77%
  • IDXHIDIV20 492   5,61   1,15%
  • IDX80 119   2,81   2,42%
  • IDXV30 137   1,27   0,94%
  • IDXQ30 130   1,67   1,30%

Menkeu Purbaya Buka Suara Soal Kegaduhan Penokatifan PBI JKN


Senin, 09 Februari 2026 / 11:24 WIB
Menkeu Purbaya Buka Suara Soal Kegaduhan Penokatifan PBI JKN
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal 11 juta peserta PBI JK yang dihapus. Jutaan orang terkejut saat butuh layanan kesehatan. (KONTAN/Nurtiandriyani S)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara terkait kegaduhan publik mengenai kepesertaan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK).

Menkeu mengungkapkan bahwa lonjakan drastis penghapusan data kepesertaan pada Februari 2026 menjadi penyebab utama munculnya keresahan di masyarakat.

Berdasarkan analisis Kementerian Keuangan, terdapat sekitar 11 juta orang yang dihapus atau diganti dari daftar PBI JK pada bulan tersebut. Angka ini mencakup hampir 10% dari total 98 juta peserta nasional.

"Kalau kita lihat tabel ini, itu jumlah penghapusan dan penggantian PBI JK yang dihapus itu di Februari 2026 naiknya atau mencapai 11 juta orang. Itu hampir 10% dari total," ujar Purbaya dalam rapat konsultasi bersama dengan Pimpinan DPR RI, Senin (9/2/2026).

Baca Juga: Begini Strategi Purbaya yang Kerek Tax Ratio Jadi 12% di 2026

Menurut Purbaya, lonjakan angka yang sangat signifikan ini menimbulkan efek kejutan (shock) di masyarakat. Banyak warga yang tidak menyadari bahwa nama mereka telah dikeluarkan dari daftar penerima bantuan hingga mereka membutuhkan layanan kesehatan.

"Ini menurut dugaan kami, karena sedemikian besar orang yang terpengaruh dan mereka tidak tahu bahwa mereka sudah tidak masuk dalam daftar lagi," katanya.

"Kalau 10% kena kan kerasa tuh, kalau satu persen enggak ribut orang-orang. Begitu 10%, hampir yang sakit tuh hampir semuanya kena, itu dugaan saya," imbuh Purbaya.

Baca Juga: Rencana Purbaya Perketat Pencairan Restitusi Pajak Dikhawatirkan Berisiko Salah Arah

Guna menghindari kejadian serupa di masa mendatang, Purbaya meminta agar proses pemutakhiran data dilakukan dengan lebih moderat.

Ia menyarankan adanya metode smoothing atau pemerataan pembaruan data dalam rentang waktu beberapa bulan agar tidak terjadi lonjakan drastis dalam satu waktu.

"Jadi ini yang mesti dikendalikan ke depan. Kalau ada angkanya drastis seperti ini ya di-smoothing sedikit lah, di-average 3 bulan atau 4 bulan atau 5 bulan terserah, tapi jangan menimbulkan kejutan seperti itu," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×