kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   0,00   0,00%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Ekonom: Burden sharing tidak akan sebabkan hiperinflasi di tahun 2022


Kamis, 26 Agustus 2021 / 18:13 WIB
ILUSTRASI. Inflasi Indonesia di tahun 2022 diprediksi masih tetap terjaga


Reporter: Bidara Pink | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) dan pemerintah melanjutkan burden sharing melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) III untuk pelaksanaan pembiayaan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 dan APBN 2022. 

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan, skema pembagian beban ini memang memungkinkan meningkatkan inflasi. Namun, dia menegaskan, inflasi tidak akan naik signifikan dan masih akan berada dalam kisaran sasaran BI yakni 2% - 4%. 

“Kami memperkirakan inflasi tahun 2022 berada di kisaran 3,10%,” kata dia kepada Kontan.co.id, Rabu (25/8). 

Bila dibandingkan dengan pergerakan inflasi di tahun ini maupun tahun 2020, inflasi memang lebih tinggi di tahun depan. Peningkatan inflasi ini seiring dengan pemulihan ekonomi Indonesia yang terus berlangsung sehingga meningkatkan permintaan. 

Baca Juga: Ekonom Bank Permata sebut kebijakan burden sharing tekan lonjakan inflasi tahun depan

Faisal juga optimistis, angka kasus harian Covid-19 bisa terus ditekan, ditambah adanya vaksinasi yang dipercepat sehingga pembatasan aktivitas akan dilonggarkan. Hal ini berpotensi menaikkan mobilitas masyarakat dan berujung pada peningkatan perputaran uang di dalam negeri. 

Selain itu, insentif pajak untuk konsumen kemungkinan besar akan selesai sehingga ada normalisasi harga di tahun depan. 

Namun, inflasi masih tetap bergerak terbatas karena di sisi lain, bank sentral Amerika Serikat (AS) kemungkinan melakukan pengetatan kebijakan moneter (tapering off) sehingga dapat menurunkan harga komoditas. 

“Hal ini akan berdampak pada penurunan harga-harga input produksi dan harga energi. Harga emas yang merupakan salah satu penyumbang terbesar inflasi diprediksi juga akan turun,” pungkas Faisal. 

Selanjutnya: Pergerakan rupiah besok (27/8) ditentukan pernyataan The Fed pada Jackson Hole

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×