kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.615.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.110   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.040   1,68   0,03%
  • KOMPAS100 789   0,53   0,07%
  • LQ45 599   -3,49   -0,58%
  • ISSI 210   2,97   1,43%
  • IDX30 339   -1,95   -0,57%
  • IDXHIDIV20 422   -0,99   -0,24%
  • IDX80 90   0,01   0,01%
  • IDXV30 116   1,09   0,96%
  • IDXQ30 109   -0,38   -0,35%

DPR bahas tiga opsi tim pengkaji dampak pembatasan BBM subsidi


Selasa, 08 Maret 2011 / 13:36 WIB
ILUSTRASI. Cukai Plastik —— Pedagang produk plastik menata barang dagangannya di pasar Pondok Gede, Bekasi.


Reporter: Dwi Nur Oktaviani, Mohamad Jumasri, | Editor: Edy Can

JAKARTA. Komisi VII DPR akan membahas hasil kajian tim pengkaji akademis dampak kebijakan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Setelah mengetahui paparan hasil kajian itu, fraksi DPR akan menentukan sikap atas rencana penerapan pembatasan BBM subsidi.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sudah terang-terangan menolak rencana pembatasan itu. Sementara, fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum menentukan sikap. “Yang jelas kami akan mendengar pemaparan di Komisi VII jam 2 nanti. Kami akan melihat kebijakan tersebut,” ujar Ketua Fraksi PKS Mustafa Kamal, Selasa (8/2).

Sebelumnya, PKS telah meminta pemerintah menunda realisasi rencana yang awalnya akan diterapkan pada Januari lalu. Sebab, fraksi ini meminta pemerintah untuk membuat konsep kebijakan yang melindungi rakyat kecil. Maklum, Mustafa menilai selama ini manajemen penyaluran BBM subsidi sudah amburadul.

PKS juga tidak setuju jika kebijakan itu diterapkan pada Juli mendatang. Mustafa beralasan, bulan tersebut sangat rawan terhadap inflasi. "Ini akan mendorong gejolak sosial dan dapat mencekik masyarakat. Ini bukan hanya ditilik dari kesiapan energi saja, tapi sosial budaya harus dijaga stabilitas politik ini,”tambahnya.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Effendy Simbolon mengatakan rapat tersebut akan membahas kajian pemerintah terkait yang akan memberlakukan pembatasan BBM bersubsidi pada awal April 2011. "Rapat ini merupakan rapat lanjutan bulan Januari 2011," ujarnya.

Sebelumnya, tim pengkaji telah memberikan tiga opsi kepada pemerintah. Tiga opsi itu yakni menaikkan harga premium sebesar Rp 500 per liter, menjaga harga BBM nonsubsidi, dan mengendalikan konsumsi lewat sistem pengendali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×