kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Dorongan ekonomi dari pemerintah masih loyo


Rabu, 27 Mei 2020 / 08:00 WIB


Reporter: Rahma Anjaeni | Editor: Adinda Ade Mustami

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan menilai, kontraksi belanja negara pada April 2020 lalu menjadi konsekuensi logis dari adanya realokasi anggaran yang dilakukan pemerintah. Dengan catatan, dana itu efektif untuk mengurangi dampak Covid-19 ke perekonomian nasional.

Ia memperkirakan realisasi belanja terutama pada pos belanja pegawai masih positif karena belanja rutin yang cenderung tidak akan mengalami penurunan. Tak hanya itu, belanja bansos juga masih tetap naik. "Karena stimulus yang diberikan pemerintah melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN)," kata Abdul kepada KONTAN.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah juga memperkirakan, belanja sosial akan terus mengalami peningkatan, belanja pegawai akan relatif stabil, sedangkan belanja modal dan belanja barang akan mengalami kontraksi.

Meski demikian, secara keseluruhan, belanja pemerintah belum cukup untuk menggerakkan perekonomian dalam negeri. Sebab, kontribusi pengeluaran pemerintah terhadap PDB kurang dari 10%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×