kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.042   34,00   0,19%
  • IDX 6.320   85,12   1,37%
  • KOMPAS100 832   13,60   1,66%
  • LQ45 635   11,28   1,81%
  • ISSI 218   2,09   0,97%
  • IDX30 357   7,08   2,02%
  • IDXHIDIV20 439   8,12   1,89%
  • IDX80 95   1,54   1,64%
  • IDXV30 120   1,66   1,39%
  • IDXQ30 114   1,99   1,77%

Dorongan ekonomi dari pemerintah masih loyo


Rabu, 27 Mei 2020 / 08:00 WIB


Reporter: Rahma Anjaeni | Editor: Adinda Ade Mustami

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan menilai, kontraksi belanja negara pada April 2020 lalu menjadi konsekuensi logis dari adanya realokasi anggaran yang dilakukan pemerintah. Dengan catatan, dana itu efektif untuk mengurangi dampak Covid-19 ke perekonomian nasional.

Ia memperkirakan realisasi belanja terutama pada pos belanja pegawai masih positif karena belanja rutin yang cenderung tidak akan mengalami penurunan. Tak hanya itu, belanja bansos juga masih tetap naik. "Karena stimulus yang diberikan pemerintah melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN)," kata Abdul kepada KONTAN.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah juga memperkirakan, belanja sosial akan terus mengalami peningkatan, belanja pegawai akan relatif stabil, sedangkan belanja modal dan belanja barang akan mengalami kontraksi.

Meski demikian, secara keseluruhan, belanja pemerintah belum cukup untuk menggerakkan perekonomian dalam negeri. Sebab, kontribusi pengeluaran pemerintah terhadap PDB kurang dari 10%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×