Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai pergerakan nilai tukar rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor fundamental ekonomi, tetapi juga sentimen pasar baik dari dalam negeri maupun global.
Hal tersebut disampaikan Destry dalam uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test calon Gubernur BI di Komisi XI DPR RI, Rabu (26/8/2026).
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah Rabu (26/8/2026) berada di level Rp 17.718 per dollar Amerika Serikat (AS). nilai tukar tersebut sudah jauh melemah dari target dalam APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per dollar AS.
Baca Juga: Anggaran KIP Kuliah 2027 Diproyeksikan Rp15,37 Triliun, Ini Jumlah Penerimanya
Destry mengatakan, dalam jangka panjang, pergerakan rupiah lebih banyak ditentukan oleh faktor fundamental. Sementara dalam jangka pendek, pergerakan rupiah dapat bergerak lebih cepat akibat perubahan sentimen pasar.
"Kalau kita bicara rupiah, rupiah itu kan memang sangat dipengaruhi pertama, ada faktor yang jangka panjang dan ini lebih fundamental, dan ada faktor yang jangka pendek dan ini lebih sentimen," ujar Destry.
Menurut dia, jika hanya melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia serta ketidakpastian yang terjadi di Amerika Serikat dan global, posisi nilai tukar rupiah sebenarnya berpotensi berada pada level yang lebih rendah dibandingkan saat ini.
Namun, pergerakan rupiah tidak dapat dilepaskan dari sentimen pasar. Berbagai sentimen global dapat muncul secara bersamaan dan memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek.
“Kalau kita lihat dari faktor fundamental, kemudian termasuk juga apa yang terjadi di Amerika, di global dengan ketidakpastian yang tinggi, itu nilai rupiah kita sebenarnya bisa lebih rendah dari sekarang,” katanya.
Sebaliknya, ketika sentimen pasar membaik, rupiah juga dapat mengalami penguatan dengan cepat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor sentimen memiliki pengaruh besar terhadap volatilitas rupiah dalam jangka pendek.
Destry menegaskan, BI akan terus memanfaatkan momentum ketika sentimen pasar sedang positif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurutnya, kehadiran BI di pasar tetap diperlukan untuk menjaga volatilitas rupiah, terutama ketika terjadi pergerakan yang terlalu cepat akibat perubahan sentimen.
"Dan kami tetap, tapi kami akan selalu manfaatkan momentum. Pada saat sentimen lagi positif, tentunya Bank Indonesia akan terus juga ada, di pasar tetap ada kami," jelas Destry.
Ia menambahkan, menjaga volatilitas rupiah merupakan bagian dari kewajiban BI sebagai bank sentral.
"Karena itu sudah menjadi kewajiban kami menjaga volatilitas juga dari rupiah," pungkasnya.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Aturan Baru untuk Tekan Biaya Kargo Udara Antar Pulau
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














