kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.911   -17,00   -0,09%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Dunia Usaha Tahan Ekspansi, Perputaran Uang Ekonomi Ikut Melambat


Selasa, 06 Oktober 2026 / 16:57 WIB
Dunia Usaha Tahan Ekspansi, Perputaran Uang Ekonomi Ikut Melambat
ILUSTRASI. Warga berbelanja di supermarket di Jakarta (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kecepatan perputaran uang atau velocity of money masih menghadapi tekanan seiring dunia usaha yang cenderung menahan ekspansi. 

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat tambahan likuiditas belum sepenuhnya memberikan dorongan kuat terhadap aktivitas ekonomi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai perlambatan velocity of money lebih merupakan gejala dari persoalan ekonomi, bukan menjadi penyebab utamanya.

Baca Juga: Velocity of Money RI Melambat, Dana Masyarakat dan Korporasi Makin Banyak Diparkir

Menurut dia, kondisi tersebut mencerminkan masih adanya kecenderungan rumah tangga menahan konsumsi, dunia usaha menunda ekspansi, serta perbankan yang lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

"Perlambatan velocity sebenarnya lebih merupakan gejala daripada penyebab masalah ekonomi," ujar Yusuf kepada Kontan.co.id, Selasa (6/10).

Dia menjelaskan, ketika dunia usaha menunda ekspansi, kebutuhan terhadap pembiayaan dan aktivitas transaksi ikut tertahan. Pada saat yang sama, konsumsi rumah tangga yang belum kuat membuat uang tidak berputar secepat yang diharapkan di dalam perekonomian.

Akibatnya, tambahan likuiditas atau stimulus moneter dapat menghasilkan dorongan pertumbuhan yang lebih kecil apabila tidak diikuti peningkatan aktivitas ekonomi riil.

Yusuf juga menyoroti pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 yang berada di level 5,29%. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan momentum pertumbuhan masih perlu dijaga agar transmisi likuiditas ke sektor riil semakin kuat.

Meski demikian, terdapat sinyal positif dari sisi kredit. Pertumbuhan kredit tercatat mencapai 13,3%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang sebesar 7,7%.

Menurut Yusuf, kondisi tersebut menunjukkan transmisi likuiditas ke sektor riil mulai berjalan.

Oleh karena itu, kebijakan ekonomi dinilai tidak cukup hanya berfokus pada penambahan jumlah uang beredar. Pemerintah dan otoritas perlu memastikan likuiditas benar-benar masuk ke aktivitas ekonomi yang menghasilkan konsumsi, investasi, dan produksi.

Yusuf menyarankan stimulus diarahkan kepada kelompok masyarakat dengan kecenderungan konsumsi tinggi. Sementara dari sisi pembiayaan, kredit perlu lebih banyak mengalir ke sektor padat karya dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Baca Juga: Pemerintah Kejar Investasi Hilirisasi US$ 618 Miliar, Ekspor Diharap US$ 857 Miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×