Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Defisit neraca perdagangan diperkirakan kembali berlanjut karena harga minyak mentah global yang sempat melonjak.
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan Indonesia menyempit menjadi US$ 450 juta pada Juni 2026 (dibandingkan US$ 1,6 miliar pada Mei 2026), seiring ekspor tumbuh 9,7% secara month on month (MoM) menjadi US$ 25,5 miliar, melampaui kenaikan impor sebesar 4,4% MoM menjadi US$ 25,9 miliar.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri melihat penyempitan defisit neraca perdagangan mencerminkan pemulihan ekspor secara bulanan, bukan penguatan struktural neraca eksternal. Karena posisi perdagangan berbalik tajam dari surplus US$ 4,1 miliar pada Juni 2025, dengan pertumbuhan impor sebesar 34,3% secara year on year (yoy) jauh melampaui pertumbuhan ekspor sebesar 9,0% yoy.
Baca Juga: Sudah Berlaku Sejak 1 Agustus, Purbaya Mendadak Tunda Penerapan Pajak Marketplace
“Ke depan, risiko pelebaran defisit perdagangan kembali meningkat setelah harga minyak mentah Brent naik dari sekitar US$ 72,0 per barel pada awal Juli dan sempat melampaui US$ 90,0 per barel menjelang akhir bulan, yang berpotensi meningkatkan tagihan impor energi Indonesia dengan jeda waktu,” ujar Novani dalam risetnya pada Rabu (5/8/2026).
Meskipun ekspor produk berbasis nikel, besi dan baja, serta batu bara diperkirakan tetap menjadi penopang, Novani menilai penerimaan ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dapat tertahan oleh penurunan harga referensinya. Jika ekspor kembali turun ke bawah US$ 25,0 miliar, defisit perdagangan kemungkinan akan melebar karena impor dapat meningkat pada Juli di tengah kenaikan harga minyak.
“Kondisi ini dapat menambah tekanan terhadap rupiah, transaksi berjalan, dan cadangan devisa,” ucap Novani.
Seperti diketahui pada Juni 2026 impor mencapai rekor bulanan tertinggi sebesar US$ 25,9 miliar. Sementara impor nonmigas juga meningkat ke level tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$ 21,4 miliar, terutama didorong oleh bahan baku yang mencakup hampir 72,0% dari total impor. Peningkatan impor mesin mekanis, peralatan listrik, plastik, bahan kimia, dan produk mineral mencerminkan penguatan permintaan terhadap input untuk mendukung produksi, investasi, dan ekspansi industri.
“Meskipun hal ini dapat mengindikasikan aktivitas ekonomi yang lebih kuat, dampak positifnya akan bergantung pada kemampuan input impor tersebut dalam meningkatkan produksi domestik dan kapasitas ekspor,” jelas Novani.
Sementara, surplus nonmigas meningkat menjadi US$ 3,0 miliar pada Juni 2026 (dibandingkan US$ 2,2 miliar pada Mei 2026), ditopang oleh ekspor lemak dan minyak, bahan bakar mineral, produk nikel, serta besi dan baja. Namun, perbaikan tersebut masih belum cukup untuk mengimbangi defisit migas sebesar US$ 3,5 miliar, meskipun menyempit 7,1% secara month on month. Karena impor minyak mentah meningkat signifikan dari sisi volume dan nilai, sementara impor produk hasil minyak tetap tinggi.
“Kondisi ini menunjukkan ketergantungan struktural Indonesia terhadap pasokan energi eksternal, sehingga neraca perdagangan sangat terekspos terhadap pergerakan harga minyak global,” sebut Novani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
