kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Cuaca Ekstrem hingga Program MBG Diperkirakan Jadi Pemicu Inflasi Hingga Akhir 2026


Senin, 03 Agustus 2026 / 15:47 WIB
Cuaca Ekstrem hingga Program MBG Diperkirakan Jadi Pemicu Inflasi Hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Jakarta Kota Global (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi Indonesia hingga akhir 2026 diperkirakan masih menghadapi sejumlah tantangan. Meski laju inflasi pada Juli 2026 melambat, tekanan harga dinilai berpotensi kembali meningkat akibat risiko cuaca ekstrem, program pemerintah yang mendorong permintaan pangan, hingga gejolak geopolitik global.

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman menghitung, inflasi akan berada di kisaran 3,13% secara tahunan pada akhir 2026, dengan asumsi pemerintah tetap mempertahankan harga energi bersubsidi pada level saat ini.

“Namun, jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat dan memicu lonjakan harga energi global dalam waktu yang lebih lama, inflasi berpotensi melampaui proyeksi tersebut,” ujar Faisal dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).

Baca Juga: Daya Beli Belum Bangkit, Ekonomi Kuartal II-2026 Diprediksi Melambat

Menurutnya, kenaikan harga energi global dapat meningkatkan tekanan terhadap pemerintah untuk menyesuaikan harga energi bersubsidi. Jika hal itu terjadi, tekanan inflasi akan semakin besar dan membuka peluang bagi Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan.

Selain risiko dari harga energi, Faisal juga menyoroti sejumlah faktor domestik yang berpotensi mendorong inflasi pada sisa tahun ini.

Ia menilai kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi berpotensi meningkatkan jumlah uang beredar (M2), sehingga dapat memicu tekanan inflasi dari sisi permintaan.

Di sisi lain, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap komoditas pangan. Menurut Faisal, peningkatan permintaan tersebut perlu diimbangi dengan kenaikan produksi pertanian dan ketahanan rantai pasok agar tidak memicu lonjakan harga pangan.

"Program MBG kemungkinan akan memperkuat permintaan pangan sehingga berisiko mendorong inflasi harga bergejolak apabila tidak diiringi peningkatan produksi pertanian yang memadai," jelasnya.

Faisal juga mengingatkan potensi kemunculan fenomena El Nino berkekuatan tinggi atau yang disebut "Godzilla" perlu diwaspadai karena dapat mengganggu produksi pertanian. Gangguan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan memperbesar tekanan inflasi.

Dari sisi eksternal, ia melihat ketidakpastian masih tinggi seiring berlanjutnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan prospek kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Kondisi tersebut telah memicu sentimen penghindaran risiko (risk-off), membatasi aliran modal masuk ke pasar domestik, serta memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah dinilai dapat meningkatkan inflasi impor, terutama melalui kenaikan biaya bahan baku impor yang kemudian diteruskan produsen ke harga jual kepada konsumen.

Meski demikian, dalam skenario dasar, ia masih memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% hingga akhir tahun. Menurut Faisal, kenaikan BI Rate sebelumnya telah mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada kuartal IV-2026.

"Kami belum menutup kemungkinan adanya kenaikan suku bunga BI lagi pada 2026 apabila kondisi memburuk. Namun, skenario dasar kami tetap BI mempertahankan suku bunga di level 5,75%," pungkasnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Indonesia pada Juli 2026 mencapai 2,88% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,73, sementara secara bulanan (month-to-month/m-to-m) mengalami deflasi sebesar 0,14%.

Baca Juga: Ahmad Muzani Merapat ke Istana, Bakal Undang Prabowo Hadiri Sidang Tahunan MPR

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×