Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan inflasi pada Mei 2026 dinilai tidak hanya dipicu oleh faktor musiman dan kenaikan harga pangan, tetapi juga oleh meningkatnya tekanan inflasi impor (imported inflation) akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya bahan baku dari luar negeri. Kondisi tersebut berpotensi menjadi risiko inflasi yang perlu diwaspadai hingga akhir tahun.
Kepala Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan PermataBank, Faisal Rachman, menilai inflasi tahunan yang kembali menembus level 3% pada Mei 2026 mencerminkan semakin kuatnya tekanan dari sisi pasokan (supply side).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan meningkat dari 2,42% pada April 2026 menjadi 3,08% pada Mei 2026. Sementara secara bulanan, inflasi naik menjadi 0,28% dari 0,13% pada bulan sebelumnya.
Menurut Faisal, kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu oleh berlanjutnya penerusan kenaikan biaya produksi ke tingkat konsumen. Tekanan berasal dari meningkatnya biaya bahan baku impor, kenaikan harga energi, meningkatnya harga bahan bakar yang berdampak pada tarif transportasi, hingga berkurangnya pasokan pangan akibat hasil panen yang lebih rendah.
Baca Juga: Inflasi Naik 3,08%, Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi, LPG dan Avtur Picu Inflasi
"Inflasi inti juga meningkat dari 2,44% menjadi 2,59% secara tahunan. Hal ini mencerminkan meningkatnya inflasi impor akibat pelemahan rupiah yang membuat harga barang impor dan input produksi menjadi lebih mahal, khususnya produk elektronik," ujar Faisal, Selasa (2/6).
Ia menjelaskan, imported inflation semakin terlihat dari kenaikan inflasi inti bulanan yang meningkat dari 0,13% pada April menjadi 0,22% pada Mei 2026. Kenaikan tersebut terjadi meskipun harga emas mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir.
Menurut Faisal, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan biaya dari sisi pasokan semakin banyak diteruskan oleh produsen kepada konsumen akhir.
Selain pelemahan rupiah, tekanan inflasi juga dipicu kenaikan harga energi global di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Dampaknya terlihat pada kenaikan harga LPG non-subsidi dan tarif angkutan udara yang turut menyumbang inflasi Mei 2026.
Dari kelompok pangan, kenaikan harga cabai merah, bawang merah, tomat, dan sejumlah komoditas lainnya terjadi akibat berkurangnya pasokan dan meningkatnya permintaan menjelang Hari Raya Iduladha.
Ke depan, Faisal memperingatkan risiko inflasi masih cukup besar. Dari sisi domestik, kebijakan fiskal yang ekspansif dan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi meningkatkan permintaan pangan sehingga dapat menambah tekanan pada kelompok harga bergejolak apabila tidak diimbangi peningkatan produksi.
Baca Juga: BPS: Harga Beras Jadi Pemicu Utama Kenaikan Inflasi Mei 2026
Selain itu, potensi kemunculan fenomena El Niño ekstrem atau "Godzilla El Niño" juga perlu diwaspadai karena berisiko mengganggu produksi pertanian dan memicu kenaikan harga pangan.
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai masih menjadi sumber risiko utama. Konflik yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga energi global, memperlemah stabilitas rupiah, serta meningkatkan tekanan inflasi impor.
"Inflasi yang berasal dari sisi pasokan saat ini sudah lebih tinggi dibandingkan inflasi dari sisi permintaan. Ini mengindikasikan meningkatnya risiko pass-through kenaikan biaya produksi kepada konsumen, terutama akibat naiknya harga bahan baku impor," jelas Faisal.
Meski demikian, ia menilai tekanan inflasi masih dapat tertahan oleh permintaan domestik yang relatif belum terlalu kuat, tercermin dari masih adanya negative output gap dalam perekonomian Indonesia.
Baca Juga: BPS: Inflasi Mei 2026 Capai 0,28%, Harga Pangan dan BBM Jadi Biang Kerok
Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan inflasi Indonesia akan berada di kisaran 2,72% pada akhir tahun 2026 dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi pada level saat ini.
Namun apabila berbagai risiko tersebut terwujud, inflasi berpotensi meningkat lebih tinggi dan membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya.
Meski demikian, Faisal masih mempertahankan proyeksi BI Rate berada di level 5,25% hingga akhir tahun. Menurutnya, kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin yang dilakukan Bank Indonesia sebelumnya merupakan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan stabilitas makroekonomi sepanjang 2026.
Baca Juga: BPS: Inflasi Tahunan Melonjak Jadi 3,08% per Mei 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













