kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   -50.000   -1,72%
  • USD/IDR 17.093   54,00   0,32%
  • IDX 7.273   -6,30   -0,09%
  • KOMPAS100 1.005   -1,46   -0,15%
  • LQ45 732   -1,52   -0,21%
  • ISSI 262   1,81   0,69%
  • IDX30 393   -5,69   -1,43%
  • IDXHIDIV20 480   -7,11   -1,46%
  • IDX80 113   -0,15   -0,14%
  • IDXV30 133   -1,38   -1,02%
  • IDXQ30 127   -1,94   -1,51%

Cadangan Devisa Turun, BI Hadapi Tekanan Global dan Mahal Biaya Stabilkan Rupiah


Kamis, 09 April 2026 / 09:23 WIB
Cadangan Devisa Turun, BI Hadapi Tekanan Global dan Mahal Biaya Stabilkan Rupiah
ILUSTRASI. Petugas mencatat uang asing dolar Amerika Serikat (US$) di Pooling Center, Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cadangan devisa Indonesia kembali tergerus pada Maret 2026 di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa turun menjadi US$ 148,2 miliar, dari sebelumnya US$ 151,9 miliar pada Februari 2026.

Penurunan ini mencerminkan kombinasi arus dana masuk dan keluar. Di satu sisi, ada pemasukan dari penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. 

Namun di sisi lain, devisa terkuras untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi BI di pasar valas guna menahan pelemahan rupiah.

Baca Juga: Perang Berkecamuk, Cadangan Devisa Terendah Dalam 20 Bulan Terakhir

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut kondisi ini masih dalam batas aman. "Cadangan devisa masih memadai untuk mendukung ketahanan eksternal," ujarnya, Rabu (8/4/2026).

Secara rasio, posisi cadangan devisa setara 6 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini masih jauh di atas standar internasional sekitar 3 bulan impor, sehingga dinilai cukup kuat meredam guncangan eksternal.

Meski begitu, penurunan cadangan devisa tetap menjadi sinyal meningkatnya tekanan eksternal, terutama di tengah volatilitas pasar global dan pelemahan rupiah yang sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai penyusutan cadangan devisa tidak hanya disebabkan intervensi BI, tetapi peran intervensi tetap signifikan dalam menjaga stabilitas. 

"Penyangga eksternal memang melemah, tapi belum masuk kategori genting," ujarnya.

Baca Juga: Cadangan Devisa Menyusut di Tengah Intervensi BI, Ini Penyebabnya

Ia menilai strategi BI sudah berada di jalur yang tepat, dengan kombinasi kebijakan seperti penahanan suku bunga, intervensi di pasar spot dan forward, serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. 

Namun, Josua mengingatkan biaya menjaga rupiah bisa meningkat jika terlalu bergantung pada cadangan devisa.

Menurutnya, ke depan BI perlu lebih mengandalkan instrumen pasar dan pengelolaan ekspektasi, termasuk memperkuat lindung nilai, memperdalam pasar valas, serta mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik dana asing.

Tekanan terhadap rupiah sendiri tidak hanya berasal dari faktor global seperti penguatan dolar AS dan ketegangan geopolitik, tetapi juga dari sentimen domestik. 

Kekhawatiran defisit kembar hingga potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global turut membebani pergerakan rupiah.

Dalam proyeksinya, defisit transaksi berjalan Indonesia pada 2026 diperkirakan melebar ke kisaran 0,59% dari produk domestik bruto (PDB), bahkan bisa mendekati 1% dalam skenario berat. 

Baca Juga: Ongkos Mahal Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

Kondisi ini berisiko menekan cadangan devisa ke kisaran US$ 140 miliar hingga US$ 145 miliar.

Sementara itu, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai kebijakan BI masih relevan, tetapi perlu diperkuat melalui kerja sama internasional, khususnya untuk memastikan ketersediaan likuiditas dolar AS. 

Salah satu opsi yang dinilai penting adalah kerja sama swap line dengan bank sentral global sebagai bantalan saat tekanan likuiditas meningkat.

Dari sisi legislatif, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengkritik pendekatan BI yang dinilai masih konvensional. 

Ia mendorong BI lebih agresif dalam menyediakan likuiditas valas, termasuk melalui kerja sama strategis tingkat tinggi untuk memenuhi kebutuhan dolar di dalam negeri.

Situasi ini menunjukkan bahwa menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global bukan hanya soal intervensi jangka pendek, tetapi juga membutuhkan strategi yang lebih luas dan biaya yang tidak kecil terhadap cadangan devisa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×