kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Cadangan Devisa Turun, BI Hadapi Tekanan Global dan Mahal Biaya Stabilkan Rupiah


Kamis, 09 April 2026 / 09:23 WIB
Cadangan Devisa Turun, BI Hadapi Tekanan Global dan Mahal Biaya Stabilkan Rupiah
ILUSTRASI. Petugas mencatat uang asing dolar Amerika Serikat (US$) di Pooling Center, Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

Tekanan terhadap rupiah sendiri tidak hanya berasal dari faktor global seperti penguatan dolar AS dan ketegangan geopolitik, tetapi juga dari sentimen domestik. 

Kekhawatiran defisit kembar hingga potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global turut membebani pergerakan rupiah.

Dalam proyeksinya, defisit transaksi berjalan Indonesia pada 2026 diperkirakan melebar ke kisaran 0,59% dari produk domestik bruto (PDB), bahkan bisa mendekati 1% dalam skenario berat. 

Baca Juga: Ongkos Mahal Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

Kondisi ini berisiko menekan cadangan devisa ke kisaran US$ 140 miliar hingga US$ 145 miliar.

Sementara itu, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai kebijakan BI masih relevan, tetapi perlu diperkuat melalui kerja sama internasional, khususnya untuk memastikan ketersediaan likuiditas dolar AS. 

Salah satu opsi yang dinilai penting adalah kerja sama swap line dengan bank sentral global sebagai bantalan saat tekanan likuiditas meningkat.

Dari sisi legislatif, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengkritik pendekatan BI yang dinilai masih konvensional. 

Ia mendorong BI lebih agresif dalam menyediakan likuiditas valas, termasuk melalui kerja sama strategis tingkat tinggi untuk memenuhi kebutuhan dolar di dalam negeri.

Situasi ini menunjukkan bahwa menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global bukan hanya soal intervensi jangka pendek, tetapi juga membutuhkan strategi yang lebih luas dan biaya yang tidak kecil terhadap cadangan devisa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×