Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
Tekanan terhadap rupiah sendiri tidak hanya berasal dari faktor global seperti penguatan dolar AS dan ketegangan geopolitik, tetapi juga dari sentimen domestik.
Kekhawatiran defisit kembar hingga potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global turut membebani pergerakan rupiah.
Dalam proyeksinya, defisit transaksi berjalan Indonesia pada 2026 diperkirakan melebar ke kisaran 0,59% dari produk domestik bruto (PDB), bahkan bisa mendekati 1% dalam skenario berat.
Baca Juga: Ongkos Mahal Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
Kondisi ini berisiko menekan cadangan devisa ke kisaran US$ 140 miliar hingga US$ 145 miliar.
Sementara itu, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai kebijakan BI masih relevan, tetapi perlu diperkuat melalui kerja sama internasional, khususnya untuk memastikan ketersediaan likuiditas dolar AS.
Salah satu opsi yang dinilai penting adalah kerja sama swap line dengan bank sentral global sebagai bantalan saat tekanan likuiditas meningkat.
Dari sisi legislatif, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengkritik pendekatan BI yang dinilai masih konvensional.
Ia mendorong BI lebih agresif dalam menyediakan likuiditas valas, termasuk melalui kerja sama strategis tingkat tinggi untuk memenuhi kebutuhan dolar di dalam negeri.
Situasi ini menunjukkan bahwa menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global bukan hanya soal intervensi jangka pendek, tetapi juga membutuhkan strategi yang lebih luas dan biaya yang tidak kecil terhadap cadangan devisa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













