Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
Sepanjang Januari–Juni 2026, ekspor hanya tumbuh 4,13%, sedangkan impor melonjak 18,69%. Bahkan pada Juni 2026, nilai impor mencapai US$ 25,91 miliar, melampaui ekspor sebesar US$ 25,46 miliar.
Lonjakan impor terutama berasal dari bahan baku dan penolong yang naik 18,38% serta impor barang modal yang meningkat 20,50%. Kondisi ini mencerminkan peningkatan aktivitas produksi dan investasi, tetapi dalam jangka pendek juga memperbesar kebutuhan devisa.
Apabila kenaikan impor tidak diikuti peningkatan kapasitas produksi dan ekspor, tekanan terhadap transaksi berjalan dan cadangan devisa diperkirakan akan semakin besar.
Karena itu, Josua memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia melebar menjadi sekitar 1%–2% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, dibandingkan hanya 0,11% PDB pada 2025.
Baca Juga: Cadangan Devisa Menipis, Seberapa Kuat Rupiah Bertahan?
Pelebaran defisit tersebut diperkirakan dipicu oleh kuatnya permintaan domestik yang mendorong impor, sementara pertumbuhan ekspor kembali normal setelah lonjakan pada 2025. Kondisi itu juga diperburuk oleh perlambatan ekonomi Tiongkok, perang dagang, dan konflik di Timur Tengah.
Selain faktor perdagangan, stabilitas cadangan devisa juga sangat dipengaruhi arus modal asing. Ketidakpastian global, peninjauan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI pada November, serta perubahan outlook Moody's dan Fitch menjadi negatif dinilai masih membuat investor bersikap hati-hati terhadap aset Indonesia.
Josua memperkirakan rupiah hingga akhir 2026 bergerak di kisaran Rp 17.800–Rp 18.000 per dolar AS sehingga BI masih berpotensi menggunakan sebagian cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.027 per Dolar, Ini Prediksi Penggerakan dan Katalisnya
Dalam jangka menengah, ia menilai pemerintah perlu memperkuat sumber devisa yang lebih berkelanjutan melalui peningkatan devisa hasil ekspor yang tinggal lebih lama di dalam negeri, mendorong investasi langsung berorientasi ekspor, mengurangi ketergantungan impor energi, mengembangkan industri substitusi impor, serta menjaga kredibilitas fiskal agar kepercayaan investor tetap terpelihara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
