kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Cadangan Devisa Juli 2026 Turun, Waspadai Tekanan Impor terhadap Rupiah


Jumat, 07 Agustus 2026 / 21:17 WIB
Cadangan Devisa Juli 2026 Turun, Waspadai Tekanan Impor terhadap Rupiah
ILUSTRASI. Petugas mencatat uang asing dolar Amerika Serikat (US$) di Pooling Center, Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Posisi cadangan devisa Indonesia kembali menyusut pada akhir Juli 2026. Meski turun tipis menjadi US$ 145,3 miliar dari US$ 145,6 miliar pada Juni, level tersebut masih dinilai kuat untuk menopang stabilitas eksternal.

Namun, ekonom mengingatkan tantangan yang lebih besar justru datang dari pelebaran defisit transaksi berjalan akibat pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor.

Bank Indonesia (BI) melaporkan, posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2026 dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah.

Baca Juga: Investor Asing Cermati Transformasi Bursa, Bagaimana Dampaknya ke Rupiah?

Di sisi lain, cadangan devisa juga digunakan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, posisi cadangan devisa saat ini masih berada pada level yang sangat memadai.

"Cadangan devisa tetap mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar Ramdan, Jumat (7/8/2026).

Cadangan devisa sebesar US$ 145,3 miliar setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang sekitar tiga bulan impor.

BI juga meyakini ketahanan sektor eksternal tetap terjaga berkat cadangan devisa yang memadai, didukung prospek aliran modal asing yang tetap positif seiring daya tarik investasi di Indonesia.

Baca Juga: Rupiah Anjlok Hampir 8% Sejak Awal Tahun 2026, Cermati Prospeknya

Bank sentral juga akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai penurunan cadangan devisa sebesar US$ 0,3 miliar pada Juli bukan sinyal melemahnya kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan devisa.

Menurutnya, penurunan tersebut lebih mencerminkan penggunaan cadangan devisa sebagai instrumen stabilisasi nilai tukar rupiah.

Ia memperkirakan posisi cadangan devisa hingga akhir 2026 berada di kisaran US$ 143 miliar hingga US$ 147 miliar, lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai US$ 156,47 miliar.

Dengan posisi saat ini, ruang pergerakan dinilai relatif terbatas, yakni berpotensi naik sekitar US$ 1 miliar hingga US$ 2 miliar atau turun sekitar US$ 2 miliar tergantung perkembangan kondisi global dan domestik.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Penyebab dan Proyeksi hingga Akhir 2026

Menurut Josua, peluang cadangan devisa meningkat ke kisaran US$ 147 miliar terbuka apabila ketegangan geopolitik mereda, harga minyak turun, rupiah lebih stabil sehingga kebutuhan intervensi BI berkurang, arus modal asing kembali masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham, serta penerimaan devisa dari ekspor maupun penerbitan surat utang global meningkat.

Sebaliknya, cadangan devisa berpotensi turun mendekati atau bahkan menembus US$ 143 miliar apabila rupiah kembali tertekan, harga minyak melonjak, terjadi arus keluar modal asing, dan pembayaran utang luar negeri pemerintah meningkat.

Meski demikian, Josua menilai perhatian utama bukan terletak pada penurunan cadangan devisa, melainkan perubahan struktur perdagangan Indonesia.

Sepanjang Januari–Juni 2026, ekspor hanya tumbuh 4,13%, sedangkan impor melonjak 18,69%. Bahkan pada Juni 2026, nilai impor mencapai US$ 25,91 miliar, melampaui ekspor sebesar US$ 25,46 miliar.

Lonjakan impor terutama berasal dari bahan baku dan penolong yang naik 18,38% serta impor barang modal yang meningkat 20,50%. Kondisi ini mencerminkan peningkatan aktivitas produksi dan investasi, tetapi dalam jangka pendek juga memperbesar kebutuhan devisa.

Apabila kenaikan impor tidak diikuti peningkatan kapasitas produksi dan ekspor, tekanan terhadap transaksi berjalan dan cadangan devisa diperkirakan akan semakin besar.

Karena itu, Josua memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia melebar menjadi sekitar 1%–2% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, dibandingkan hanya 0,11% PDB pada 2025.

Baca Juga: Cadangan Devisa Menipis, Seberapa Kuat Rupiah Bertahan?

Pelebaran defisit tersebut diperkirakan dipicu oleh kuatnya permintaan domestik yang mendorong impor, sementara pertumbuhan ekspor kembali normal setelah lonjakan pada 2025. Kondisi itu juga diperburuk oleh perlambatan ekonomi Tiongkok, perang dagang, dan konflik di Timur Tengah.

Selain faktor perdagangan, stabilitas cadangan devisa juga sangat dipengaruhi arus modal asing. Ketidakpastian global, peninjauan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI pada November, serta perubahan outlook Moody's dan Fitch menjadi negatif dinilai masih membuat investor bersikap hati-hati terhadap aset Indonesia.

Josua memperkirakan rupiah hingga akhir 2026 bergerak di kisaran Rp 17.800–Rp 18.000 per dolar AS sehingga BI masih berpotensi menggunakan sebagian cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.027 per Dolar, Ini Prediksi Penggerakan dan Katalisnya

Dalam jangka menengah, ia menilai pemerintah perlu memperkuat sumber devisa yang lebih berkelanjutan melalui peningkatan devisa hasil ekspor yang tinggal lebih lama di dalam negeri, mendorong investasi langsung berorientasi ekspor, mengurangi ketergantungan impor energi, mengembangkan industri substitusi impor, serta menjaga kredibilitas fiskal agar kepercayaan investor tetap terpelihara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×