Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menyatakan, pembelian minyak dunia dengan harga terbaru usai konflik di Timur Tengah akan memengaruhi perekonomian di Indonesia.
Dia menjelaskan, jika pertempuran antara AS-Israel dan Iran bertahan lebih lama, maka pasokan BBM di dalam negeri tentu akan terganggu sehingga terjadi krisis di semua SPBU.
"Antrian panjang mencari BBM, bahkan terjadi black market atau transaksi BBM ilegal," kata Bhima, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (3/3/2026).
Dia memprediksi, fenomena penimbunan BBM juga bisa terjadi.
Gejolak BBM ini turut memengaruhi sektor transportasi hingga listrik di Tanah Air.
"Bukan cuma ganggu sektor transportasi, tapi juga memicu black out listrik. Pemadaman listrik karena komponen fossil masih mendominasi sangat berisiko ketika krisis minyak terjadi," jelasnya.
Di sisi lain, konsekuensi dari hiperinflasi sangat mahal bagi ekonomi Indonesia.
Tonton: Danantara & INA Tanam US$ 200 juta di Proyek CA-EDC US$ 800 Juta Milik Chandra Asri
Bhima mengatakan, Indonesia bisa kembali ke era 1960-an di mana hiperinflasi menyebabkan guncangan sosial politik yang rugi masyarakat menengah dan miskin.
Kondisi ini berdampak pada daya beli yang merosot tajam dan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Indonesia belum siap menghadapi transisi energi
Di saat yang bersamaan, Bhima menyampaikan bahwa Indonesia belum mempersiapkan transisi energi dengan serius.
"Transisi energi terbarukan gantikan bahan bakar fosil di pembangkit listrik masih rendah, baru 13 persen. Sebenarnya ini momentum untuk dorong energi terbarukan masif, melalui proyek 100 GW," terang Bhima.
Dia menambahkan, percepatan transisi ke energi terbarukan di Indonesia sangat diperlukan untuk mengurangi ketergantungan impor minyak, terutama di sektor pembangkit listrik, misalnya dengan memberikan stimulus fiskal ke instalasi panel surya, angin, dan air.
"Porsi bauran energi terbarukan minimal 23 persen, semakin tinggi semakin jadi buffer atau penahan guncangan eksternal," jelasnya.
Sementara itu, di tengah gejolak konflik Timur Tengah yang berdampak pada perekonomian Indonesia, Bhima menyarankan supaya masyarakat Indonesia lebih banyak mengurangi pengeluaran sekunder dan tersier.
Mereka disarankan untuk fokus ke pemenuhan kebutuhan pokok dan dana cadangan.
"Bagi kelas menengah yang bisa membeli panel surya disarankan sebagai backup apabila terjadi krisis energi," tandasnya.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Cadangan BBM di Indonesia Tersisa 20 Hari, Apa yang Terjadi jika Konflik Timur Tengah Tak Kunjung Mereda?"
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Harga minyak dunia
- Krisis Energi
- Pasokan Bbm
- krisis listrik
- PHK massal
- daya beli masyarakat
- energi terbarukan
- panel surya
- transisi energi
- hiperinflasi
- harga minyak brent
- Pertamina Patra Niaga
- konflik timur tengah
- Harga Minyak WTI
- Satgas RAFI
- Selat Hormuz
- ekonomi Indonesia 2026
- Dampak ekonomi Indonesia
- cadangan BBM Indonesia
- analisis energi











