Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat China masih menjadi negara pemberat utama defisit neraca dagang Indonesia sepanjang periode Januari–Desember 2025.
Defisit perdagangan Indonesia dengan China tercatat paling dalam dibandingkan negara mitra dagang lainnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan, defisit neraca dagang Indonesia dengan Tiongkok sepanjang 2025 mencapai US$ 20,50 miliar.
Baca Juga: BPS: Impor Mesin RI dari Tiongkok US$ 77,52 Miliar, Defisit Meningkat
Angka ini menjadikan China sebagai penyumbang defisit terbesar, disusul oleh Australia dan Singapura.
“Negara penyumbang defisit terdalam, yang pertama Tiongkok, itu defisitnya US$ 20,50 miliar. Kemudian Australia sebesar US$ 5,65 miliar, dan Singapura juga defisit sebesar US$ 5,47 miliar,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/2/2026).
Ateng menjelaskan, defisit neraca dagang Indonesia dengan China terutama didorong oleh impor sejumlah komoditas Utama, yakni berasal dari mesin dan peralatan mekanik (HS84), serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS85), dan kendaraan dan bagiannya (HS87).
Baca Juga: Kemendag Bidik Transaksi Dagang TEI 2025 Tembus US$ 16,5 Miliar
Lebih lanjut, Ateng merinci tiga komoditas terbesar penyumbang defisit neraca dagang RI. Pertama, komoditas mesin dan peralatan mekanik (HS84) dengan defisit sebesar US$ 28,48 miliar.
"Defisit yang keduanya, yaitu berasal dari mesin dan peralatan elektronik (HS85 sebesar US$ 12,68 miliar. Serta yang defisit terbesar ketiga, yaitu dari plastik dan barang dari plastik (HS39) dengan defisit sebesar US$ 7,70 miliar," pungkas Ateng.
Selanjutnya: Pengusaha Masih Waspada! Kenaikan PMI Dinilai Bersifat Sementera
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Selasa 3 Februari 2026, Kendalikan Emosi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













