kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   20.000   0,78%
  • USD/IDR 17.918   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.094   62,48   1,04%
  • KOMPAS100 785   10,40   1,34%
  • LQ45 602   8,03   1,35%
  • ISSI 213   1,61   0,76%
  • IDX30 334   4,21   1,27%
  • IDXHIDIV20 427   4,86   1,15%
  • IDX80 90   1,14   1,28%
  • IDXV30 117   0,96   0,83%
  • IDXQ30 109   1,31   1,21%

BPS Catat Defisit Perdagangan RI-China Tembus US$ 20,50 Miliar Sepanjang 2025


Senin, 02 Februari 2026 / 14:38 WIB
BPS Catat Defisit Perdagangan RI-China Tembus US$ 20,50 Miliar Sepanjang 2025
ILUSTRASI. Peluncuran ekspor feronikel dari Kendari ke China tanpa transit (ANTARA FOTO/Andry Denisah). Defisit perdagangan Indonesia sepanjang 2025 capai US$ 20,5 miliar dengan China. BPS ungkap penyebab utamanya yang perlu diwaspadai.


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat China masih menjadi negara pemberat utama defisit neraca dagang Indonesia sepanjang periode Januari–Desember 2025.

Defisit perdagangan Indonesia dengan China tercatat paling dalam dibandingkan negara mitra dagang lainnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan, defisit neraca dagang Indonesia dengan Tiongkok sepanjang 2025 mencapai US$ 20,50 miliar.

Baca Juga: BPS: Impor Mesin RI dari Tiongkok US$ 77,52 Miliar, Defisit Meningkat

Angka ini menjadikan China sebagai penyumbang defisit terbesar, disusul oleh Australia dan Singapura.

“Negara penyumbang defisit terdalam, yang pertama Tiongkok, itu defisitnya US$ 20,50 miliar. Kemudian Australia sebesar US$ 5,65 miliar, dan Singapura juga defisit sebesar US$ 5,47 miliar,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/2/2026).

Ateng menjelaskan, defisit neraca dagang Indonesia dengan China terutama didorong oleh impor sejumlah komoditas Utama, yakni berasal dari mesin dan peralatan mekanik (HS84), serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS85), dan kendaraan dan bagiannya (HS87).

Baca Juga: Kemendag Bidik Transaksi Dagang TEI 2025 Tembus US$ 16,5 Miliar

Lebih lanjut, Ateng merinci tiga komoditas terbesar penyumbang defisit neraca dagang RI. Pertama, komoditas mesin dan peralatan mekanik (HS84) dengan defisit sebesar US$ 28,48 miliar. 

"Defisit yang keduanya, yaitu berasal dari mesin dan peralatan elektronik (HS85 sebesar US$ 12,68 miliar. Serta yang defisit terbesar ketiga, yaitu dari plastik dan barang dari plastik (HS39) dengan defisit sebesar US$ 7,70 miliar," pungkas Ateng.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×