Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengimpor banyak barang dari Tiongkok atau China. Sepanjang Januari–November 2025, nilai impor nonmigas dari Tiongkok mencapai US$ 77,52 miliar, didominasi oleh mesin serta peralatan mekanis.
Besarnya impor dari Tiongkok tersebut turut memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan nasional. BPS mencatat, Tiongkok kembali menjadi negara penyumbang defisit terdalam bagi Indonesia, khususnya pada kelompok nonmigas, dengan nilai mencapai minus US$ 19,28 miliar. Sementara secara kumulatif, total defisit dagang RI baik migas dan non migas terhadap Tiongkok tercatat minus US$ 17,74 miliar.
Baca Juga: BPS: Inflasi Tahunan Desember 2025 Tercatat 2,92%
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan, berdasarkan negara dan kawasan asal, tiga besar negara asal impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–November 2025 adalah Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat. Ketiganya menyumbang sekitar 52,87% dari total impor nonmigas Indonesia pada periode tersebut.
"Impor non-migas dari Tiongkok mencapai US$ 77,52 miliar dan didominasi oleh impor mesin dan peralatan mekanis atau HS84 dengan share 22,75% dan tumbuh 12,33% secara C2C (customer to customer)," ungkap Pudji dalam konferensi pers, Senin (5/1/2026).
Baca Juga: BPS Rilis KBLI 2025, Perkuat Pencatatan Ekonomi Digital dan Dukung Kepastian Usaha
Sementara itu, impor nonmigas dari Jepang tercatat sebesar US$ 13,28 miliar. Sama seperti Tiongkok, impor dari Jepang juga didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis (HS 84) dengan pangsa 21,70% dan pertumbuhan 5,76% secara tahunan.
Adapun impor nonmigas dari Amerika Serikat mencapai US$ 8,93 miliar. Kelompok mesin dan peralatan mekanis (HS 84) kembali menjadi komoditas utama dengan pangsa 18,36% dan mencatat pertumbuhan impor sebesar 16,25% secara tahunan.
BPS menilai, dominasi impor mesin dan peralatan mekanis dari negara-negara utama tersebut mencerminkan masih kuatnya kebutuhan Indonesia terhadap barang modal dan peralatan penunjang industri, namun di sisi lain juga memperlebar defisit perdagangan, khususnya dengan Tiongkok.
Baca Juga: BPS Catat Surplus Neraca Perdagangan Oktober 2025 Mencapai US$ 2,39 Miliar
Selanjutnya: Menkum Klaim Pasal Penghinaan di KUHP Baru Tak Larang Kritik Pemerintah
Menarik Dibaca: Ramalan 12 Zodiak Keuangan dan Karier Besok Selasa 6 Januari 2026, Harus Cermat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













