CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Bir dan bikini, zonasi pengembangan pariwisata


Senin, 16 Oktober 2017 / 20:43 WIB


Reporter: Ghina Ghaliya Quddus | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah tidak ingin ketinggalan peluang untuk menggarap sektor pariwisata di tengah bertumbuhnya masyarakat kelas menengah di berbagai belahan dunia pasca-krisis moneter pada 2008 silam. Oleh karena itu, pengembangan sektor pariwisata tengah digencarkan.

Namun demikian, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyampaikan, pengembangan destinasi pariwisata di beberapa daerah ini juga harus tetap perhatikan zonasi. Artinya, ada kawasan yang memang khusus dibangun untuk menjadi destinasi wisata.

Pasalnya, ada beberapa daerah yang kental nilai religiusnya sehingga di beberapa hal bertentangan dengan perilaku wisatawan khususnya mancanegara. Contohnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang dikenal sebagai sentra wisata halal.

Menurut Thomas, Lombok berhasil menyediakan jasa yang optimal untuk wisatawan mancanegara, tetapi tidak ada masalah nilai religius masyarakatnya yang kental.

"Lombok juga Islam, namun di sana dibikin zonasi. Dan Lombok fokus ke kawasan turis internasional. Bikini dan bir adalah common sense, ditanggapi dengan akal sehat. Jadi tidak masalah," ujar Thomas dalam Regional Investment Forum di Padang, Senin (16/10).

Di dalam kesempatan tersebut hadir pula Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno. Ia mengatakan, pantai-pantai di Sumatra Barat selama ini terbuka bagi turis asing, termasuk kebiasaan-kebiasaan mereka.

Contohnya di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang terkenal di kalangan peselancar dunia dan di Pulau Cubadak, Pesisir Selatan. “Jika ke Mentawai, seluruh wisatawan juga memakai bikini. Tapi itu di pulau. Jangan coba-coba (berbikini) di Pantai Padang, karena banyak masyarakat lokal,“ ujar Irwan.

Oleh karena itu, solusinya, menurut Irwan adalah apabila daerah ingin tetap melakukan pengembangan kawasan wisata, perlu konsentrasi pada satu destinasi unggulan dan menghormati budaya lokal yang ada. “Di zona itu, kan dia mau pakai bikini (silakan),” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×