kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Bir dan bikini, zonasi pengembangan pariwisata


Senin, 16 Oktober 2017 / 20:43 WIB


Reporter: Ghina Ghaliya Quddus | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah tidak ingin ketinggalan peluang untuk menggarap sektor pariwisata di tengah bertumbuhnya masyarakat kelas menengah di berbagai belahan dunia pasca-krisis moneter pada 2008 silam. Oleh karena itu, pengembangan sektor pariwisata tengah digencarkan.

Namun demikian, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyampaikan, pengembangan destinasi pariwisata di beberapa daerah ini juga harus tetap perhatikan zonasi. Artinya, ada kawasan yang memang khusus dibangun untuk menjadi destinasi wisata.

Pasalnya, ada beberapa daerah yang kental nilai religiusnya sehingga di beberapa hal bertentangan dengan perilaku wisatawan khususnya mancanegara. Contohnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang dikenal sebagai sentra wisata halal.

Menurut Thomas, Lombok berhasil menyediakan jasa yang optimal untuk wisatawan mancanegara, tetapi tidak ada masalah nilai religius masyarakatnya yang kental.

"Lombok juga Islam, namun di sana dibikin zonasi. Dan Lombok fokus ke kawasan turis internasional. Bikini dan bir adalah common sense, ditanggapi dengan akal sehat. Jadi tidak masalah," ujar Thomas dalam Regional Investment Forum di Padang, Senin (16/10).

Di dalam kesempatan tersebut hadir pula Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno. Ia mengatakan, pantai-pantai di Sumatra Barat selama ini terbuka bagi turis asing, termasuk kebiasaan-kebiasaan mereka.

Contohnya di Kabupaten Kepulauan Mentawai yang terkenal di kalangan peselancar dunia dan di Pulau Cubadak, Pesisir Selatan. “Jika ke Mentawai, seluruh wisatawan juga memakai bikini. Tapi itu di pulau. Jangan coba-coba (berbikini) di Pantai Padang, karena banyak masyarakat lokal,“ ujar Irwan.

Oleh karena itu, solusinya, menurut Irwan adalah apabila daerah ingin tetap melakukan pengembangan kawasan wisata, perlu konsentrasi pada satu destinasi unggulan dan menghormati budaya lokal yang ada. “Di zona itu, kan dia mau pakai bikini (silakan),” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×