kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

BI Sebut Investasi Emas Masih Digandrungi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global


Rabu, 17 September 2025 / 15:31 WIB
BI Sebut Investasi Emas Masih Digandrungi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global
ILUSTRASI. Ingots of 99.99 percent pure gold are placed in a workroom at Krastsvetmet precious metals plant in the Siberian city of Krasnoyarsk, Russia, January 31, 2023. REUTERS/Alexander Manzyuk. BI membeberkan, emas saat ini masih menjadi salah satu pilihan utama investor di tengah ketidakpastian perekonomian global yang masih tinggi.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) membeberkan, emas saat ini masih menjadi salah satu pilihan utama investor di tengah ketidakpastian perekonomian global yang masih tinggi.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, dengan masih tingginya ketidakpastian, aliran modal global ke komoditas emas semakin meningkat sedangkan aliran modal ke emerging market (EM) tertahan.

“Ke depan, volatilitas pasar keuangan global masih terus berlanjut sehingga perlu diantisipasi dengan penguatan berbagai respons dan koordinasi kebijakan untuk menjaga ketahanan ekonomi dalam negeri,” tutur Perry dalam konferensi pers, Rabu (17/9/2025).

Baca Juga: Gubernur Bank Indonesia Beberkan Strategi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Adapun ia membeberkan, prospek pertumbuhan ekonomi global belum membaik, salah satunya dipengaruhi berbagai indikator menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi di sebagian besar negara disertai dengan disparitas pertumbuhan antarnegara.

Di AS, keyakinan pelaku ekonomi menurun seiring implementasi kebijakan tarif yang berdampak pada melemahnya konsumsi rumah tangga dan naiknya tingkat pengangguran. Kinerja ekonomi China juga melambat akibat menurunnya ekspor terutama ke AS sebagai dampak tarif resiprokal AS serta melemahnya permintaan domestik khususnya investasi.

Sedangkan ekonomi Eropa dan Jepang juga dalam tren menurun sejalan dengan tertekannya kinerja ekspor. Sementara itu, ekonomi India sedikit meningkat ditopang oleh stimulus fiskal untuk mendorong konsumsi.

“Dengan perkembangan tersebut, BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia 2025 masih berpotensi lebih rendah dari prakiraan sebelumnya sekitar 3,0%,” ungkapnya.

Sejalan dengan itu Perry membeberkan, prospek ekonomi dunia yang belum kuat dan menurunnya tekanan inflasi mendorong sebagian bank sentral menempuh kebijakan moneter akomodatif, kecuali di Jepang.

Probabilitas penurunan Fed Funds Rate (FFR) juga semakin tinggi sejalan dengan naiknya tingkat pengangguran AS. Di pasar keuangan global, yield US Treasury menurun sejalan dengan ekspektasi penurunan FFR dan mendorong pelemahan indeks mata uang dolar AS (DXY).

Baca Juga: Bank Indonesia Pangkas BI Rate 25 bps Jadi 4,75%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×