kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

BI Rate Dipangkas Jadi 5%, Ada Potensi Modal Asing Keluar dari Pasar Indonesia


Kamis, 21 Agustus 2025 / 20:16 WIB
Diperbarui Kamis, 21 Agustus 2025 / 21:43 WIB
BI Rate Dipangkas Jadi 5%, Ada Potensi Modal Asing Keluar dari Pasar Indonesia
ILUSTRASI. Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (15/5/2025). Momentum tren pemangkasan suku bunga acuan (BI Rate) yang masih berlanjut memiliki potensi risiko jangka pendek terhadap arus modal asing.


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto menilai momentum tren pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI Rate) yang masih berlanjut memiliki potensi risiko jangka pendek terhadap arus modal asing ke pasar Indonesia.

Meskipun demikian, arus modal asing masih diperkirakan masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurunnya risiko geopolitik dan kebijakan perdagangan AS membuat investor beralih dari aset aman ke instrumen berisiko. Ditambah dengan prospek pelonggaran moneter di AS, arus modal diperkirakan terus mengalir dan menekan nilai dolar AS.

Baca Juga: Investor Asing Kembali ke Saham BMRI dan BBRI, Tren Berlanjut?

Terbaru, hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada Agustus 2025 telah menurunkan BI Rate ke level 5%. Setidaknya sejak awal tahun, BI telah memangkas total 100 basis poin (bps).

Suhindarto mengingatkan adanya potensi risiko jangka pendek setelah BI memangkas suku bunga acuan menjadi 5% pada Agustus 2025.

Menurutnya, pemangkasan suku bunga dapat mendorong yield obligasi turun dan harga naik, yang bisa memicu aksi ambil untung (profit taking) oleh investor asing.

Selain itu, spread (selisih) yield obligasi Indonesia terhadap pasar AS juga menyempit karena pada saat yang sama The Fed belum memangkas suku bunga.

Baca Juga: BI Rate Turun Jadi 5%, Arus Modal Asing ke Pasar Indonesia Masih Prospektif

Pada momen ini, investor asing akan cenderung merealisasikan capital gain untuk mengambil keuntungan dari kenaikan harga tersebut.

Tak hanya pasar obligasi, tren penurunan suku bunga ini juga akan turut mendorong harga saham meningkat seiring dengan prospek kinerja perusahaan yang dinilai dapat tumbuh lebih jauh.


Tag


TERBARU

[X]
×