kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.907   25,00   0,14%
  • IDX 6.289   -84,45   -1,32%
  • KOMPAS100 822   -14,08   -1,69%
  • LQ45 625   -9,23   -1,46%
  • ISSI 217   -2,83   -1,28%
  • IDX30 349   -5,07   -1,43%
  • IDXHIDIV20 425   -4,25   -0,99%
  • IDX80 94   -1,56   -1,63%
  • IDXV30 117   -1,01   -0,85%
  • IDXQ30 111   -1,31   -1,17%

BI: Pembiayaan Perbankan Syariah Capai Rp 720 Triliun pada Juni 2026


Kamis, 13 Agustus 2026 / 09:32 WIB
BI: Pembiayaan Perbankan Syariah Capai Rp 720 Triliun pada Juni 2026
ILUSTRASI. Bank Indonesia (BI) mencatat pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp 720 triliun pada Juni 2026 (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perbankan syariah terus menunjukkan pertumbuhan di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan bagi dunia usaha. Bank Indonesia (BI) mencatat pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp 720 triliun pada Juni 2026, tumbuh 11,43% secara tahunan atau year on year (yoy).

Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah yang mencapai Rp 816 triliun atau tumbuh 13,13% yoy pada periode yang sama.

Di sektor dunia usaha, rantai pasok halal juga mencatat pertumbuhan sebesar 5,5%. Sementara itu, outstanding sukuk korporasi telah mencapai sekitar Rp 95 triliun.

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan semakin besarnya peluang pembiayaan syariah untuk mendukung investasi produktif dan ekspansi sektor riil.

Baca Juga: Utang Pemerintah Melonjak, Hampir Separuh Penerimaan Negara Habis untuk Bayar Utang

Melalui program Bulan Pembiayaan Syariah dan Percepatan Intermediasi Indonesia, Bank Indonesia bersama seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi untuk memperluas akses pembiayaan sekaligus mempercepat realisasi pembiayaan syariah ke sektor riil.

Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kontribusi pembiayaan syariah terhadap investasi dan ekspansi usaha serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Menurut Destry, pembiayaan syariah perlu ditempatkan sebagai pilihan strategis dan kompetitif bagi korporasi dalam melakukan investasi maupun ekspansi. Karena itu, diperlukan pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan, disertai pendalaman pasar keuangan syariah dan penguatan intermediasi.

“Serta kolaborasi antara korporasi, industri keuangan syariah, regulator, kementerian/lembaga, dan asosiasi,” tutur Destry dalam keterangannya, Kamis (13/8/2026).

Destry juga menekankan pentingnya memperluas kapasitas dan mengembangkan inovasi instrumen pembiayaan. Selain itu, penguatan tata kelola, manajemen risiko, serta pemantauan dinilai diperlukan untuk memperkuat pembiayaan kepada korporasi.

Baca Juga: Inflasi AS Melandai, Tekanan terhadap Rupiah dan SBN Berpotensi Mereda

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Ekonomi Syariah KADIN Indonesia, Titi Khoiriah, menyampaikan pentingnya pembiayaan syariah berjangka panjang dengan skema dan tenor yang sesuai kebutuhan untuk mendukung ekspansi korporasi.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Hubungan Bisnis Asbisindo/Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Bob Tyasika Ananta, menekankan pentingnya pendekatan berbasis ekosistem yang menghubungkan korporasi dengan rantai pasok.

Menurutnya, pendekatan berbasis ekosistem tersebut dapat memberikan ruang bagi perbankan syariah untuk memperluas pembiayaan modal kerja sekaligus membangun hubungan jangka panjang dengan dunia usaha.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×