Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
Ke depan, inflasi diperkirakan kembali mereda pada April seiring normalisasi harga pasca-Lebaran. Namun, risiko tetap terbuka, terutama dari potensi kenaikan harga energi global.
Dari sisi eksternal, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 tercatat US$1,27 miliar. Meski masih surplus, angka ini turun tajam 59,03% dibandingkan tahun lalu akibat pertumbuhan ekspor yang lebih lambat dibanding impor.
Impor yang meningkat, terutama barang modal dan bahan baku, mencerminkan aktivitas industri yang masih solid, sejalan dengan indeks PMI manufaktur yang berada di level ekspansif 53,8.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp 17.168 per Dollar AS, BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga
Meski demikian, tekanan global terus membayangi pasar keuangan domestik. Rupiah melemah ke kisaran Rp17.125 per dolar AS, walaupun masih relatif terkendali berkat intervensi BI.
Cadangan devisa yang turun tetap berada di level aman, setara sekitar enam bulan impor.
Dalam situasi ini, BI menghadapi dilema kebijakan. Pelonggaran suku bunga terlalu cepat berisiko memperlemah rupiah dan memperbesar arus keluar modal. Sebaliknya, kebijakan yang terlalu ketat dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, pendekatan wait and see dinilai paling realistis. Menahan suku bunga di level saat ini menjadi opsi untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas eksternal dan pengendalian inflasi di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













