Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) terus memantau kepulangan jemaah umrah asal Indonesia yang terdampak penutupan jalur udara akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Pemerintah memastikan proses evakuasi dan kepulangan jemaah terus berjalan melalui koordinasi intensif dengan berbagai pihak.
Kepala Biro Humas Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Hasan Afandi mengungkapkan, hingga awal Maret ini, sebagian besar jemaah sudah berhasil kembali ke tanah air. Namun, gangguan masih terjadi pada penerbangan yang menggunakan rute transit.
"Per 3 Maret 2025, sudah ada 10.060 jemaah umrah yang pulang. Mereka pulang dengan penerbangan komersial sesuai dengan jadwalnya. Penerbangan yang masih operasional adalah penerbangan direct Jeddah/Madinah - Indonesia," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (5/3/2026).
Baca Juga: KJRI Jeddah: 10.060 Jemaah Umrah Sudah Tiba di Indonesia, 2.278 Orang Segera Menyusul
Hasan menjelaskan, jemaah yang terdampak saat ini adalah mereka yang menggunakan jasa maskapai dengan rute transit melalui wilayah udara yang ditutup. Untuk itu, Kemenhaj meminta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) untuk tetap bertanggung jawab atas kondisi jemaah di lapangan.
Di samping itu, terkait dampak ekonomi akibat imbauan penundaan keberangkatan jemaah baru, Hasan mengaku, pihaknya belum melakukan kalkulasi secara rinci.
"Belum ada perkiraan kerugian. Fokus saat ini adalah memastikan jemaah umrah tetap dilayani oleh PPIU, dan PPIU menjalankan kewajibannya," tegasnya.
Guna mempercepat proses kepulangan jemaah yang masih tertahan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skema darurat bersama para pemangku kepentingan (stakeholder) penerbangan. Opsi ini diharapkan dapat memudahkan PPIU dalam mencari solusi transportasi alternatif.
"Kami melakukan koordinasi dengan seluruh stakeholder umrah, termasuk maskapai memberikan opsi untuk reschedule/reroute/refund tanpa biaya/penalti. Sehingga PPIU dapat memilih penerbangan lain," jelasnya.
Selain itu, kata Hasan, maskapai juga diberikan opsi untuk melakukan transfer penumpang ke mitra maskapai lain yang memiliki jalur penerbangan lebih aman.
"Opsi lainnya adalah maskapai melakukan transfer penumpang ke mitranya," imbuhnya.
Baca Juga: Wamenhaj Minta Arab Saudi Beri Relaksasi Hotel Umrah Imbas Konflik Timur Tengah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













