kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.693   -14,00   -0,08%
  • IDX 6.437   -24,30   -0,38%
  • KOMPAS100 850   -5,62   -0,66%
  • LQ45 647   -3,80   -0,58%
  • ISSI 223   -0,27   -0,12%
  • IDX30 359   -2,55   -0,71%
  • IDXHIDIV20 447   -3,40   -0,76%
  • IDX80 97   -0,66   -0,67%
  • IDXV30 124   -0,63   -0,51%
  • IDXQ30 116   -0,92   -0,79%

Beberkan Isu Rantai Pasok, MIND ID Ungkap Tiga Tantangan Industri Emas Nasional


Rabu, 16 September 2026 / 15:33 WIB
Beberkan Isu Rantai Pasok, MIND ID Ungkap Tiga Tantangan Industri Emas Nasional
ILUSTRASI. Dirut MIND ID Maroef Sjamsoeddin RDP dengan Komisi VI DPR RI (DOK/MIND ID)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Holding BUMN Industri Pertambangan, PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID membeberkan sejumlah tantangan serta isu strategis yang masih menghambat optimalisasi ekosistem industri emas nasional saat ini.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin memaparkan, potensi emas di Indonesia sejatinya sangat luas jika dibandingkan dengan komoditas tambang lainnya yang cenderung berfokus pada wilayah tertentu.

"Tetapi kalau emas dari ujung paling barat sampai ujung paling timur Indonesia, ujung paling utara dan ujung paling selatan itu kita bisa mendapatkan emas baik secara aluvial maupun primer," ujarnya dalam rapat bersama Komisi XII DPR, Selasa (15/9/2026).

Melihat luasnya potensi tersebut, Maroef menuturkan, pihaknya telah menggelar Focus Group Discussion (FGD) guna mengukur potensi riil cadangan emas nasional sekaligus memetakan kondisi riil yang terjadi di lapangan.

Baca Juga: Cadangan Emas Capai 3.600 Ton, Produksi Semester I-2026 Baru Tembus 17 Ton

"Kami menilai bahwa industri emas di Indonesia setidaknya menghadapi tiga kondisi, Satu, kesenjangan pasokan emas nasional di mana produksi emas resmi jumlahnya jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan emas nasional dan penambangan emas skala kecil. Yang sering kita sebut-sebut sebagai penambang-penambang rakyat atau ilegal," tegasnya.

Kedua, maraknya aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI), dan ketiga tata kelola penambangan rakyat yang dinilai belum memadai, terutama dari aspek dokumentasi, perizinan, dan kapasitas usaha. 

Atas dasar itu, lanjut Maroef, ada empat isu strategis pada rantai pasok emas nasional, yakni masih dominannya rantai perdagangan informal, rendahnya tingkat ketelusuran (traceability) emas, hingga potensi masalah sosial dan lingkungan akibat praktik tambang yang tidak berkaidah good mining practice.

Selain itu, lanjut Maroef, pengelolaan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) serta efektivitas Izin Pertambangan Rakyat (IPR) hingga kini dirasakan masih belum memadai untuk menopang tata kelola komoditas emas yang berkelanjutan.

Baca Juga: Bank Sentral Global Borong 244 Ton Emas Kuartal I-2026, Bank Indonesia Beli 2 Ton

Guna mengatasi deretan isu strategis tersebut, Maroef menegaskan, pihaknya siap mengambil peran aktif sebagai proksi pemerintah melalui penyediaan dukungan teknis, skema pembiayaan perbankan, hingga integrasi rantai pasok.

"Serta penyediaan akses teknologi dan peralatan khususnya fasilitas pengelolaan dan pemurnian, serta asistensi dalam verifikasi asal usul emas untuk menciptakan ekosistem emas rakyat yang berkelanjutan," pungkasnya.

Untuk diketahui, dalam paparan MIND ID produksi logam emas PT Antam hanya sebesar 0,83% atau sebesar 743 kilogram dari total produksi nasional. Sementara itu 99,17% produksi logam emas berasal dari perusahaan-perusahaan lain di luar PT Antam.

Baca Juga: BPS: Penurunan Harga Emas Jadi Peredam Inflasi Maret 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×