kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.930   2,00   0,01%
  • IDX 6.194   75,05   1,23%
  • KOMPAS100 797   9,08   1,15%
  • LQ45 610   6,94   1,15%
  • ISSI 216   3,57   1,68%
  • IDX30 339   3,43   1,02%
  • IDXHIDIV20 434   4,14   0,96%
  • IDX80 91   1,12   1,24%
  • IDXV30 118   1,54   1,32%
  • IDXQ30 110   0,76   0,70%

BPS Catat Perputaran Uang Melambat di Tengah Lonjakan Likuiditas


Selasa, 06 Oktober 2026 / 13:00 WIB
BPS Catat Perputaran Uang Melambat di Tengah Lonjakan Likuiditas
ILUSTRASI. Petugas menghitung mata uang Rupiah (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Likuiditas perekonomian Indonesia meningkat pada 2025, tetapi perputaran uang justru melambat. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat velocity of money atau kecepatan perputaran uang turun dari 7,80 pada 2024 menjadi 7,03 pada 2025.

Velocity of money menggambarkan seberapa cepat rata-rata uang beredar digunakan untuk transaksi dalam suatu periode. 

Baca Juga: UU Perlindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Atur Pesangon hingga Larangan Tahan Ijazah

Indikator ini dihitung dari rasio Produk Domestik Bruto (PDB) terhadap uang beredar M1. Penurunan rasio tersebut menunjukkan pertumbuhan likuiditas lebih cepat dibandingkan ekspansi aktivitas ekonomi pada 2025. 

Dalam laporan Neraca Arus Dana Indonesia Tahunan 2021–2025, BPS mencatat velocity of money sempat meningkat dari 7,44 pada 2021 menjadi 7,51 pada 2022 dan 7,81 pada 2023. 

Namun, tren berbalik pada 2024 ketika indikator tersebut turun menjadi 7,80 dan kembali merosot menjadi 7,03 pada 2025. 

"Pada tahun 2024 kecepatan uang beredar mulai mengalami perlambatan dan penurunannya semakin signifikan pada tahun 2-25, yang mencerminkan peningkatan likuiditas yang lebih cepat dibandingkan ekspansi aktivitas ekonomi," tulis BPS dalam laporannya, dikutip Selasa (6/10/2026).

Di sisi lain, rasio uang beredar terhadap perekonomian justru meningkat. Rasio M1 terhadap PDB naik dari 12,83% pada 2024 menjadi 14,22%  pada 2025, sekaligus menjadi level tertinggi sepanjang periode 2021–2025.

Rasio M2 terhadap PDB juga meningkat dari 41,77% pada 2024 menjadi 42,54% pada 2025. BPS menyebut perubahan tersebut mencerminkan meningkatnya likuiditas dalam perekonomian. 

Kenaikan rasio M1/PDB menunjukkan peredaran uang kartal dan giral kembali meningkat setelah sempat menurun pada periode 2021–2023. Menurut BPS, peningkatan pada 2024–2025 antara lain dipengaruhi oleh ekspansi keuangan pemerintah dan peningkatan penyaluran kredit. 

Perubahan likuiditas tersebut berlangsung ketika perekonomian Indonesia tumbuh 5,11% pada 2025, menguat dari 5,03% pada tahun sebelumnya. Konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. 

Baca Juga: Ideatax Ungkap Pajak Minimum Global Ubah Manfaat Tax Holiday

BPS bilang, dinamika M1 dan M2 terhadap PDB memiliki implikasi terhadap transmisi kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, serta daya dorong konsumsi dan investasi. 

Peningkatan likuiditas pada 2025 juga disebut berkaitan dengan ekspansi kebijakan fiskal dan pelonggaran moneter. 

Fenomena tersebut juga terlihat dari perkembangan sektor perbankan. Pada Desember 2025, kredit bank umum kepada pihak ketiga mencapai Rp 8.585,83 triliun, tumbuh 9,63% secara tahunan. 

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat lebih cepat, yakni 13,83% menjadi Rp 10.059,2 triliun.

Dengan demikian, 2025 memperlihatkan kondisi ketika likuiditas tumbuh lebih cepat daripada aktivitas ekonomi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×