kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45896,56   0,71   0.08%
  • EMAS1.327.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Anak Buah Luhut Bantah Faisal Basri Soal Hilirisasi Nikel Cuma Untungkan China


Minggu, 13 Agustus 2023 / 13:47 WIB
Anak Buah Luhut Bantah Faisal Basri Soal Hilirisasi Nikel Cuma Untungkan China
ILUSTRASI. Pemerintah membantah pernyataan ekonom senior Faisal Basri yang menyebut kebijakan hilirisasi Indonesia hanya menguntungkan China.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) memberikan jawaban atas kritik yang dilontarkan ekonom senior Faisal Basri mengenai kebijakan hilirisasi Indonesia yang dinilai hanya menguntungkan China.

Deputi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto membantah bahwa hilirisasi nikel 90% hanya menguntungkan investor China saja.

"Terkait klaim Faisal Basri bahwa nilai tambah dari hilirisasi nikel 90% dinikmati oleh investor Tiongkok. Dalam hal ini cukup sederhana untuk membuktikan bahwa pola pikir Faisal Basri salah," ujar Seto dalam keterangannya yang diterima Kontan.co.id, Minggu (13/8).

Baca Juga: Faisal Basri Bingung Investasi Kian Melambat Meski Pemerintah Gencar Obral Insentif

Ia menyebut, jika ekspor bijih nikel terus dilakukan maka nilai manfaat dari bijih nikel yang Indonesia miliki 100% akan dinikmati oleh negara lain. Alhasil, tidak ada pajak dan penambahan tenaga kerja yang tercipta di Indonesia.

"Jadi negara asing 100% dan Indonesia 0%," kata Septian.

Berdasarkan analisis yang ia lakukan, dari 100% nilai produk smelter maka kontribusi bijih nikel adalah 40%, kemudian 12% laba operasi yang bisa dinikmati investor, dan 48% adalah sumber daya tambahan yang perlu dikeluarkan untuk mengolah bijih nikel tersebut.

Nah, dari 48% angka tersebut, maka 32% dinikmati oleh para pelaku ekonomi di dalam negeri dalam bentuk batubara (untuk listrik), tenaga kerja, dan bahan baku lain. Untuk itu, Seto menyebut, hanya 16% yang dinikmati oleh pihak supplier dari luar negeri.

Kemudian berdasarkan hitungan tersebut, nilai tambah yang dinikmati pihak luar negeri (investor dan supplier) sebesar 16% ditambah komponen laba operasi 12% sehingga menjadi 28%.

"Sehingga, nilai tambah yang dinikmati oleh dalam negeri adalah 32% atau secara proporsi mencerminkan sekitar 53% dari seluruh nilai tambah hilirisasi nikel," jelas Seto.

Menurutnya, nilai tambah dalam negeri akan lebih besar lagi jika pihak investor asing tersebut melakukan reinvestasi di dalam negeri, tidak lagi mendapatkan tax holiday atau bahkan ada keterlibatan investor lokal, seperti Harum Energy, Trimegah Bangun Persada dan Merdeka Battery Materials.

Baca Juga: Faisal Basri: Kebijakan Hilirisasi RI Hanya Menguntungkan China

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×