kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.557   27,00   0,15%
  • IDX 6.764   -94,87   -1,38%
  • KOMPAS100 900   -15,24   -1,66%
  • LQ45 662   -8,20   -1,22%
  • ISSI 245   -3,00   -1,21%
  • IDX30 374   -3,29   -0,87%
  • IDXHIDIV20 457   -4,70   -1,02%
  • IDX80 103   -1,36   -1,31%
  • IDXV30 130   -1,23   -0,94%
  • IDXQ30 119   -1,20   -1,00%

Ada Tekanan dari Pelemahan Rupiah, Inflasi Akhir 2025 Diprediksi Capai 2,33%


Sabtu, 03 Mei 2025 / 09:33 WIB
Ada Tekanan dari Pelemahan Rupiah, Inflasi Akhir 2025 Diprediksi Capai 2,33%
ILUSTRASI. Pelemahan nilai tukar rupiah turut memberi tekanan ke kurs rupiah. Khususnya tekanan imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah turut memberi tekanan ke kurs rupiah. Khususnya tekanan imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.

Seperti diketahui, imported inflation terjadi ketika harga barang dan jasa dalam negeri meningkat akibat naiknya harga barang impor, yang bisa disebabkan oleh depresiasi mata uang lokal.

“Depresiasi rupiah diperkirakan akan berkontribusi terhadap imported inflation. Selain itu, inflasi sisi penawaran saat ini telah melampaui inflasi sisi permintaan, menandakan adanya risiko rambatan kenaikan harga ke berbagai barang dan jasa lainnya,” ujar Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, kepada Kontan, Jumat (2/5).

Baca Juga: BPS Catat Inflasi April 2025 Sebesar 1,17% Secara Bulanan

Meski begitu, Josua memperkirakan inflasi pada akhir tahun 2025 akan meningkat menjadi sekitar 2,33%, naik dari inflasi pada akhir 2024 sebesar 1,57%.  Kendati mengalami kenaikan, proyeksi ini masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia, yakni 1,5% hingga 3,5%.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Senior Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) Research, Fithra Faisal Hastiadi, menilai tekanan inflasi tahun ini masih akan moderat, meski menunjukkan sedikit peningkatan.

“Bank sentral kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan moneternya yang berhati-hati, dengan fokus pada stabilitas nilai tukar dan pengendalian ekspektasi inflasi,” ujar Fithra.

Ia juga menambahkan bahwa ketidakpastian geopolitik dan perdagangan global yang masih berlangsung dapat menjadi faktor risiko tambahan. Hal ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian dalam pengambilan kebijakan ke depan guna menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×