kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.974   127,00   0,71%
  • IDX 5.912   -283,76   -4,58%
  • KOMPAS100 785   -39,02   -4,73%
  • LQ45 594   -25,63   -4,14%
  • ISSI 205   -9,79   -4,56%
  • IDX30 337   -12,31   -3,52%
  • IDXHIDIV20 417   -11,16   -2,61%
  • IDX80 89   -4,39   -4,69%
  • IDXV30 114   -3,60   -3,06%
  • IDXQ30 109   -3,20   -2,84%

Aburizal jadi capres susah, cawapres tak cocok


Rabu, 14 Mei 2014 / 21:09 WIB
ILUSTRASI. Cara cek analisis akun Twitter via toasteed.


Sumber: Kompas.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Peneliti Pusat Data Bersatu Agus Herta menilai, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical dalam posisi serba salah. Jika ngotot tetap mencalonkan diri sebagai presiden, modal elektabilitasnya tak cukup kuat untuk bersaing dengan dua kandidat lainnya, Joko Widodo dan Prabowo Subianti. Sementata, jika menjadi calon wakil presiden, sosok Ical dinilainya tak cocok.

"Terlalu sulit untuk Ical menjadi capres. Dan ini menjadi simalakama bagi Ical karena dia juga enggak cocok menjadi cawapres," kata Agus, di Jakarta, Rabu (14/5) siang.

Agus menilai, faktor itu yang membuat Partai Golkar sulit mendapatkan rekan koalisi meskipun suara di pemilu legislatif lalu cukup besar. Berdasarkan hasil rekapitulasi suara Komisi Pemilihan Umum, Golkar mendapatkan 14,75 persen suara.

"Golkar mendapatkan suara tinggi, tapi suara Ical itu jauh dibawah Golkar. Sehingga orang kalau mau berpasangan sama Ical, bukan menambah suara malah mengurangi suara," ujarnya.

Hingga saat ini, Golkar belum mendapatkan satu pun rekan partai untuk berkoalisi menghadapi pilpres mendatang. Padahal, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra sudah berhasil menggalang dukungan parpol kecil dan menengah.

Agus menilai, sebaiknya Golkar merapat ke salah satu poros tersebut dengan mengusung tokoh lain sebagai cawapres. Manuver Golkar mendekati PDI-P, menurut Agus, pilihan sikap yang tepat.

"Tapi jangan mengusung Ical, yang paling realistis adalah mengusung tokoh lain jadi cawapres. Dan di internal Golkar juga pencalonan itu mulai tumbuh, ada Luhut Panjaitan, Jusuf Kalla, dan Akbar Tanjung," jelas Agus. (Ihsanuddin)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×