Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – MADINAH. Suasana haru dan lega menyelimuti dua remaja putri jemaah haji asal Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, pada Sabtu (2/5) sore waktu Arab Saudi.
Kedatangan jemaah haji dari embarkasi Banjarmasin tersebut sempat tertahan di area imigrasi Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah, sejak pukul 12.00 hingga 17.00 Waktu Arab Saudi (WAS) akibat kendala validasi visa. Keduanya adalah Novia Ghina dan Rabiatul Adawiyah.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir mengonfirmasi bahwa kejadian tersebut terjadi sejak siang hari.
Kedua remaja tersebut sempat mengalami pembatalan visa secara sistem saat proses pemeriksaan dokumen di pintu kedatangan Bandara Madinah.
Baca Juga: Saat Pergeseran Ke Makkah, Jemaah Diimbau Tak Bawa Oleh-Oleh Berlebihan
Mengetahui ada dua jemaah remaja putri tertahan di imigrasi, pihaknya bersama KJRI, dan pihak Kementerian Haji dan Umrah RI segera melakukan pendampingan dan negosiasi intensif untuk menyelesaikan masalah ini.
"Alhamdulillah, setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, visa keduanya bisa diterbitkan kembali. Kami meminta bantuan Kemenhaj di Jakarta untuk proses validasi ulang karena visa mereka sempat tercancel," ujarnya bersama kedua remaja putri dan keluarganya saat akan diantarkan ke hotel tempat mereka tinggal bersama jemaah satu kloternya, Santu (3/5/2026).
Keberhasilan ini tidak lepas dari koordinasi cepat antara petugas Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di lapangan dengan otoritas terkait.
Ia menjelaskan bahwa kedua jemaah tersebut telah diantar ke hotel tempat mereka menginap di Madinah bersama orang tua mereka, dan akhirnya dapat kembali berkumpul dengan jemaah satu kloter.
Salah satu remaja yang tertahan, Novia Ghina , mengaku sempat merasa panik dan bingung saat dilarang masuk oleh petugas imigrasi.
Baca Juga: Gelombang Perdana Jemaah Haji Khusus RI Tiba di Madinah, Masa Tinggal Lebih Singkat
"Awalnya panik, disuruh tunggu berjam-jam. Paspor juga tidak ada di tangan karena sedang diproses. Paniklah, masa tidak," ungkapnya.
Di tengah kepanikan dan kebingungan itu, dia akhirnya bisa sedikit lega karena ada bantuan pendampingan dari petugas haji Indonesia di Bandara.
Akhirnya, setelah menunggu hampir lima jam, akhirnya ada kepastian, jika dirinya diperbolehkan masuk ke Madinah, lolos dari imigrasi.
"Rasanya senang, alhamdulillah bisa lolos imigrasi dan bisa melaksanakan ibadah haji bersama keluarga. Kami ucapkan terima kasih kepada para petugas haji dan juga kemenhaj RI yang membantu kami," ungkapnya di dampingi sang Ibu.
Senada dengan rekannya, jemaah remaja lainnya, Rabiatul Adawiyah juga sempat merasa deg-degan dan panik. Ia mengaku sangat terbantu oleh kesigapan petugas Indonesia dan pihak maskapai Garuda yang ikut memberikan pendampingan selama mereka tertahan di imigrasi.
"Deg-degan dan panik, tapi alhamdulillah ada bantuan yang tiba-tiba datang. Terima kasih banyak untuk para petugas yang sudah membantu kami," tutur Rabiah.
Baca Juga: Satgas Bergerak, 42 Jemaah Haji Ilegal Dicegah Terbang
Meski sempat mengalami kendala administratif di bandara, kedua remaja ini menyatakan tetap semangat dan siap melaksanakan rangkaian ibadah haji.
Mereka mengaku telah mengikuti manasik haji dengan baik dan melakukan riset mandiri melalui internet sebagai bekal selama di Tanah Suci.
Kini, kedua jemaah termuda tersebut telah bergabung kembali dengan kloternya dan melanjutkan perjalanan menuju hotel untuk beristirahat sebelum memulai rangkaian ibadah di Madinah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













