: WIB    —   
indikator  I  

Nilai tukar nelayan meningkat, budidaya turun

Nilai tukar nelayan meningkat, budidaya turun

JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) pada Mei 2017 tercatat 103,39. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 0,01% dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 103,38. Dan meningkat sebesar 0,81% dibanding April 2016 yang tercatat 102,57.

Deputi Bidang Statistik dan Produksi BPS, Adi Lumaksono menjelaskan, NTNP didapat dari akumulasi antara Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi). "Pada bulan Mei, NTNP masih menunjukkan angka lebih dari 100. Ini menunjukkan, kesejahteraan petani, dalam hal ini nelayan relatif baik," ungkapnya.

Jika dipecah, BPS mencatat NTN Mei 2017 mencapai 110,18. Jumlah tersebut meningkat 0,3% dibanding angka April 2017 yang tercatat 109,85. Adi memaparkan NTN diperoleh dari perbandingan antara indeks yang diterima nelayan dengan indeks yang dibayar nelayan.

"Jika angkanya lebih dari 100, ini menunjukkan adanya perbaikan dan kenaikan kesejahteraan," tuturnya di gedung mina IV, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Senin (19/6).

Indeks yang diterima mencerminkan harga produksi petani, dalam hal ini produk ikan. Sementara indeks yang dibayar merupakan indikasi harga untuk kebutuhan rumah tangga dan harga kebutuhan usaha. NTN merupakan representasi dari usaha rumah tangga perikanan tangkap yang menggunakan kapal bermotor maupun kapal tidak bermotor.

Adi menilai bahwa akumulasi NTN 2017 merupakan yang tertinggi dibanding NTN empat tahun sebelumnya. "Dibanding 2014 sampai 2016, tahun ini yang tertinggi. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun-tahun sebelumnya, pencapaian April - Mei 2017 meningkat cukup signifikan," terangnya.

Meski hasil NTN sepanjang 2017 terbilang menggembirakan, tidak demikian dengan NTPi. Sektor budidaya cenderung mengalami penurunan di tahun ini. NTPi Mei 2017 tercatat 98,58 atau menurun 0,2% dari April 2017 yang tercatat 98,78.

"Hasilnya agak terbalik dengan NTN, untuk sektor budidaya, semuanya jadi lebih rendah," kata Adi. Ia menjelaskan penurunan tersebut disebabkan oleh indeks yang diterima relatif kecil. Sementara indeks yang dibayar untuk kebutuhan, relatif sama dengan perikanan tangkap atau NTN.

"Data tersebut mengindikasikan bahwa kesejahteraan untuk perikanan budidaya cukup buruk. Ini yang harus kita perhatikan," ujar Adi.

Padahal dalam menghitung NTPi, BPS hanya memasukkan indeks yang dibayar berupa ongkos produksi. Adi mengatakan, biaya hidup rumah tangga tidak dimasukkan dalam penghitungan.

Kepala Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan, Zulficar Mochtar mengatakan, naiknya NTN selama ini ditopang oleh upaya dari KKP untuk memperbaiki manajemen di beberapa faktor. "Kami tidak meriset secara detail soal faktor apa yang mendongkrak naiknya NTP," tuturnya.

Ia menyebutkan beberapa faktor tersebut merupakan komposisi dari meningkatnya ikan yang ditangkap, kualitasnya lebih baik, harga yang lebih baik, dan biaya yang lebih rendah. "Kalau selama ini biasanya nelayan mengeluarkan 100.000 untuk BBM, tapi karena ikan sudah banyak ya dia tinggal nangkap gitu. Inilah yang mempengaruhi nilai-nilai ekonomi dalam statistik," pungkasnya.


Reporter Elisabeth Adventa
Editor Hendra Gunawan

KELAUTAN DAN PERIKANAN

Feedback   ↑ x
Close [X]