: WIB    --   
indikator  I  

Inflasi inti terendah bukan pelemahan daya beli

Inflasi inti terendah bukan pelemahan daya beli

KONTAN.CO.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2017 mengalami deflasi sebesar 0,07%. Dengan perkembangan tersebut maka inflasi tahun kalender Januari-Agustus 2017 sebesar 2,35% dan inflasi tahun ke tahun Agustus 2017 sebesar 3,82%.

Berdasarkan catatan BPS, inflasi inti mengalami tren yang rendah selama tiga tahun terakhir. Asal tahu saja, pada tahun 2015 inflasi inti berada di angka 4,92% lalu turun menjadi 3,32% pada 2016, dan Agustus 2017 menjadi 2,98%.

Melihat angka inflasi inti yang mencapai titik terendah sejak tiga tahun terakhir ini, pemerintah menganggap bahwa hal ini tidak mencerminkan penurunan daya beli. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara mengatakan, tren inflasi yang rendah ini sesuai dengan yang diharapkan oleh pemerintah.

Menurut Suahasil, pemerintah ingin inflasi yang lebih rendah karena artinya daya beli tidak tergerus terlalu cepat. Makin tinggi inflasinya, makin cepat tergerus daya beli itu.

“Karena itu kami lihat, inflasi komponennya apa saja. Volatile food, administered prices, ada juga yang sifatnya core inflation yang menurun. Is it good? Good. Karena pemerintah basically ingin inflasi rendah,” katanya di Gedung DPR, Rabu (6/9).

Suahasil melanjutkan daya beli masyarakat tidak turun. Pasalnya, berdasarkan data BPS, konsumsi masih menunjukkan pertumbuhan pada kuartal II 2017 sebesar 4,95% meski konsumsi rumah tangga normalnya berada di kisaran 5%.

“Menurut saya tidak turun. Konsumsi kita masih naik 4.95%, itu artinya tumbuh kendati melambat tumbuhnya atau flat,” kata Suahasil.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan bahwa inflasi yang rendah dalam tiga tahun terakhir ini adalah dampak membaiknya pasokan, “Adapun kontribusi positif kebijakan pemerintah dan BI serta tim pengendali inflasi daerah,” katanya di Gedung DPR RI, Selasa (5/9).

Adapun hasil kajian BPS bahwa peningkatan konsumsi cenderung naik untuk leisure, seperti kegiatan bersenang-senang seperti jalan-jalan, menginap di hotel, makan di restoran dan sejenisnya ketimbang belanja barang seperti pakaian atau barang elektronik, menurut Suahasil membantah bahwa daya beli lesu.

“Leisure atau bukan, kan tetap itu kan konsumsi. Artinya daya beli ada,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia menganggap bahwa pendekatan untuk meningkatkan daya beli tidak perlu dibuat menurut pola konsumsi tersebut, “Itu kan konsumsi, bahwa orang preferensinya berubah, tetapi kan itu semua konsumsi,” ucapnya.


Reporter Ghina Ghaliya Quddus
Editor Yudho Winarto

DAYA BELI KONSUMEN

Feedback   ↑ x
Close [X]