kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.868   9,00   0,05%
  • IDX 6.219   91,48   1,49%
  • KOMPAS100 827   19,90   2,46%
  • LQ45 620   9,21   1,51%
  • ISSI 216   0,74   0,34%
  • IDX30 351   3,11   0,89%
  • IDXHIDIV20 428   1,50   0,35%
  • IDX80 94   1,40   1,51%
  • IDXV30 118   -0,28   -0,24%
  • IDXQ30 112   0,74   0,67%

135.367 Jemaah Haji Bayar Dam Lewat Adahi, Daging Diolah Beku hingga Siap Saji


Selasa, 02 Juni 2026 / 11:59 WIB
135.367 Jemaah Haji Bayar Dam Lewat Adahi, Daging Diolah Beku hingga Siap Saji
ILUSTRASI. Produksi olahan daging kurban dalam kemasan kaleng (ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAH)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – MAKKAH. Proyek Adahi kembali menjadi pilihan utama jemaah haji Indonesia untuk pembayaran dam pada musim haji 2026. Kementerian Haji dan Umrah mencatat sebanyak 135.367 jemaah haji Indonesia membayar dam melalui Adahi, satu-satunya lembaga dan platform resmi yang ditunjuk Pemerintah Arab Saudi untuk mengelola dan memproses penyembelihan hewan kurban, dam, fidyah, aqiqah, hingga sedekah.

Sementara itu, sebanyak 53.506 jemaah memilih membayar dam di Indonesia, 6.453 jemaah memilih menggantinya dengan berpuasa, sementara 4.084 jemaah tercatat sebagai jemaah haji ifrad sehingga tidak wajib membayar dam.

Juru Bicara Adahi Talal Abdullah Al Harbi mengatakan sistem Adahi dibangun untuk memastikan proses penyembelihan hewan dam berjalan sesuai syariat, higienis, serta seluruh hasil sembelihan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Baca Juga: Arab Saudi Perketat Jadwal Haji 2027, AMPHURI Minta Pelunasan Dipercepat

Menurut Talal, sebelum Adahi dibentuk, proses penyembelihan dam di Arab Saudi belum berada dalam pengawasan terpadu pemerintah. Saat itu masih banyak ditemukan pemotongan ilegal yang menyebabkan sebagian daging tidak tersalurkan dengan baik dan bahkan membusuk.

“Sebelum Adahi tidak ada pengawasan pemerintah. Ada penyembelihan ilegal sehingga banyak daging tidak terselamatkan atau membusuk,” ujar Talal di kantor Adahi, Senin (1/6/2026).

Ia menjelaskan Adahi mulai beroperasi sejak 1403 Hijriah atau 1982 Masehi pada masa Raja Fahd. Sejak saat itu sistem pengelolaan terus dikembangkan, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital. Kini layanan Adahi juga terintegrasi dengan aplikasi Nusuk sehingga jemaah dapat mengakses layanan melalui telepon genggam masing-masing.

Talal mengatakan setiap hewan yang masuk ke rumah potong terlebih dahulu menjalani pemeriksaan fisik dan medis guna memastikan kelayakan penyembelihan. Pemeriksaan kembali dilakukan setelah penyembelihan untuk memastikan daging layak dikonsumsi.

“Pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah penyembelihan sebagai jaminan kualitas,” katanya.

Baca Juga: Begini Nasib Barang Bawaan Jemaah Haji yang Tak Sesuai Ketentuan di Koper

Adahi saat ini mengoperasikan tujuh lokasi penyembelihan yang berdiri di atas lahan hampir satu juta meter persegi. Pada musim haji tahun lalu, lebih dari 1 juta kambing diproses melalui sistem tersebut. Sementara pada musim haji 2026, jumlah itu ditargetkan meningkat menjadi sekitar 1,2 juta ekor.

Dalam pelaksanaannya, proses penyembelihan berlangsung sangat cepat dengan dukungan teknologi modern. Talal menyebut satu ekor kambing dapat diproses hanya dalam waktu sekitar tujuh detik. Pada musim haji tahun lalu, sekitar 27.000 ekor kambing diproses hanya dalam satu jam pertama setelah salat Iduladha.

Setelah disembelih, daging langsung masuk ke tahap pendinginan dan pembekuan. Adahi memiliki sekitar 100 unit pembekuan dengan suhu mencapai minus 80 derajat Celsius. Dengan fasilitas tersebut, daging dapat dibekukan hanya dalam waktu 30 hingga 40 menit sebelum didistribusikan.

Daging kemudian dikemas dalam bentuk beku seberat 3 kilogram menggunakan nitrogen agar tetap segar. Dalam kondisi beku, daging dapat bertahan hingga satu tahun. Selain itu, sebagian daging juga diolah dalam bentuk kaleng siap saji berbobot 400 gram yang dikirim ke wilayah terpencil atau negara yang sedang mengalami konflik.

“Satu orang bisa dapat lebih dari satu. Ini untuk negara-negara terpencil atau sedang konflik. Hewan didatangkan dari Afrika, karena yang sanggup mengadakan dalam waktu dekat,” ungkapnya.

Distribusi daging dilakukan baik di dalam Arab Saudi maupun ke luar negeri. Sekitar 60% disalurkan di dalam negeri, sementara 40% lainnya dikirim ke berbagai negara penerima manfaat, termasuk Palestina, Yaman, serta sejumlah negara di Afrika.

Sejak pertama kali berjalan, Talal mengatakan distribusi daging Adahi telah menjangkau sekitar 27 negara. Secara kumulatif, lebih dari 27 juta nusuk telah diproses melalui program ini dengan total penerima manfaat mencapai sekitar 30 juta orang.

Baca Juga: Koper Jemaah Haji Kerap Dibongkar karena Over Bagasi, Ini Penyebabnya

Untuk mendukung operasional selama musim haji, Adahi melibatkan sekitar 700 lembaga di dalam negeri. Pengawasan juga dilakukan secara ketat melalui sekitar 1.250 kamera CCTV yang beroperasi selama 84 jam non-stop atau sekitar 3,5 hari sejak salat Iduladha selesai.

Selain CCTV, Adahi juga menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi jumlah hewan, memantau bobot, hingga membantu pencatatan data dengan tingkat akurasi yang diklaim mencapai 99%.

Talal menegaskan seluruh bagian hewan hasil sembelihan dimanfaatkan secara maksimal. Tidak ada daging yang dibuang. Sementara limbah seperti jeroan dan sisa organ yang tidak digunakan diolah dengan teknologi khusus menjadi produk turunan seperti pupuk.

“100% daging tidak ada yang dibuang semua trmanfaatkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, seluruh transaksi pembelian layanan Adahi kini dilakukan secara daring. Sistem ini dibuat untuk memudahkan jemaah sekaligus memastikan proses pembayaran dan penyembelihan berlangsung lebih tertib, transparan, dan terdokumentasi.

Sebelumnya, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meminta sebagian besar daging dam jemaah haji Indonesia didistribusikan untuk masyarakat Palestina.

Permintaan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah Arab Saudi dan Adahi sebagai lembaga resmi pengelola dam jemaah haji.

Kebijakan itu disebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah Indonesia terhadap kondisi kemanusiaan di Palestina.

Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Azhar Simanjuntak, mengatakan distribusi daging dam untuk Palestina dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Kami sudah meminta secara khusus kepada Adahi juga Pemerintah Saudi Arabia, supaya daging-daging dam ini itu didistribusikan untuk masyarakat Palestina," kata Dahnil kepada tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Jumat (22/5/2026).

Menurut Dahnil, jumlah dam jemaah haji Indonesia tahun ini yang diperkirakan akan disalurkan ke Palestina mencapai hampir 90 ribu ekor.

"Presiden berharap daging-daging dam jemaah haji Indonesia didistribusikan untuk warga Palestina yang membutuhkan," tambah Dahnil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×