kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.039.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.783   -40,00   -0,24%
  • IDX 8.235   -86,97   -1,04%
  • KOMPAS100 1.158   -11,60   -0,99%
  • LQ45 838   -5,18   -0,61%
  • ISSI 293   -4,14   -1,40%
  • IDX30 443   -2,67   -0,60%
  • IDXHIDIV20 534   -1,42   -0,26%
  • IDX80 129   -1,09   -0,84%
  • IDXV30 144   -1,15   -0,79%
  • IDXQ30 143   -0,54   -0,37%

Tekanan Fiskal Jadi Sorotan, S&P Ingatkan Risiko Peringkat Utang Indonesia


Jumat, 27 Februari 2026 / 05:47 WIB
Tekanan Fiskal Jadi Sorotan, S&P Ingatkan Risiko Peringkat Utang Indonesia
ILUSTRASI. Rupiah Melemah-Petugas menghitung uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketahanan fiskal kembali menjadi faktor kunci penilaian utang Indonesia. Setelah Moody’s Ratings menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, kini S&P Global Ratings ikut menyoroti meningkatnya tekanan fiskal yang berpotensi memengaruhi profil kredit Tanah Air.

Mengutip laporan Bloomberg, S&P menilai kenaikan biaya pembayaran utang menjadi salah satu risiko utama yang dapat memperburuk posisi fiskal Indonesia dan membuka peluang penurunan peringkat utang.

Analis S&P, Rain Yin, menegaskan bahwa rasio pembayaran bunga utang berisiko melampaui batas aman 15% dari pendapatan pemerintah.

“Jika tekanan ini terjadi secara berkelanjutan, hal itu bisa memicu pandangan negatif terhadap peringkat kredit Indonesia,” ujar Yin.

Baca Juga: ​Polemik LPDP, Sumber Dana Beasiswa LPDP Tak Hanya Dari Pajak, Tapi Juga Utang

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah mengalokasikan anggaran pembayaran bunga utang sebesar Rp 599,44 triliun, naik 8,6% dibandingkan outlook tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 538,70 triliun dialokasikan untuk bunga utang dalam negeri dan Rp 60,74 triliun untuk bunga utang luar negeri. Total beban bunga ini setara dengan sekitar 19% dari target pendapatan negara yang dipatok Rp 3.153,6 triliun.

Tekanan fiskal juga tercermin dari kinerja anggaran tahun lalu. Realisasi defisit mencapai 2,92% dari produk domestik bruto (PDB), melebar dari target APBN 2025 sebesar 2,78% dan mendekati batas aman 3% dari PDB.

Pelebaran defisit tersebut mendorong pemerintah meningkatkan penarikan utang.

Baca Juga: Diserbu Asing, Pemerintah Klaim Pasar SBN Tetap Solid di Tengah Tekanan Global

S&P menilai pelemahan pendapatan negara secara berkelanjutan berisiko membuat beban bunga semakin berat dan menggerus ruang fiskal. Dua faktor yang terus dipantau adalah konsistensi kerangka fiskal jangka menengah terhadap aturan fiskal serta perkembangan penerimaan negara.

Meski demikian, hingga kini S&P masih mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Namun, penilaian tersebut mencerminkan kekhawatiran yang kian besar terhadap posisi fiskal pemerintah.

Sebelumnya, pada awal Februari, Moody’s Ratings juga mengubah prospek peringkat Baa2 Indonesia menjadi negatif, dengan alasan risiko fiskal dan tantangan tata kelola di bawah pemerintahan Prabowo Subianto.

Di sisi lain, pemerintah menyiapkan langkah mitigasi untuk mengelola kewajiban utang tahun ini, salah satunya melalui skema debt switching dengan Bank Indonesia senilai Rp 173,4 triliun.

Baca Juga: Pemerintah Serap Utang Baru Rp 152 Triliun dari Lelang SUN Sampai Februari 2026

Melalui skema ini, surat berharga negara (SBN) yang jatuh tempo ditukar dengan utang baru berjangka lebih panjang, sehingga pembayaran pokok dapat digeser dan tekanan likuiditas jangka pendek bisa diredam.

Selanjutnya: Vivo Y05 Resmi Indonesia: Baterai 6.500 mAh, Harga Mulai Rp 1,8 Jutaan

Menarik Dibaca: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Cilegon Hari Ini Jumat 27 Februari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×