Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Di tengah ketidakpastian pasokan energi global, negara-negara di Asia Tenggara semakin agresif memperbesar penggunaan biofuel sebagai bagian dari strategi ketahanan energi.
Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia, Malaysia, Thailand, hingga Vietnam sama-sama meluncurkan atau memperluas program pencampuran bahan bakar nabati, meski dengan komposisi dan pendekatan yang berbeda.
Percepatan tersebut terjadi ketika volatilitas harga energi dunia masih dipengaruhi dinamika geopolitik internasional.
Ketergantungan yang tinggi terhadap impor minyak membuat banyak negara di kawasan berupaya memperbesar pemanfaatan sumber energi domestik, sekaligus mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan energi.
Indonesia menjadi negara dengan langkah paling agresif melalui implementasi biodiesel B50 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026.
Sementara itu, Malaysia menaikkan mandat biodieselnya menjadi B15, Thailand memperkuat penggunaan biodiesel B20 dan gasohol E20, sedangkan Vietnam mulai memperluas penggunaan bensin E10 secara nasional.
Meski menggunakan bahan baku dan bauran yang berbeda, arah kebijakannya relatif serupa, yakni mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor sekaligus meningkatkan pemanfaatan komoditas pertanian dalam negeri.
Baca Juga: B50 Mulai Diterapkan 1 Juli 2026, Kementan Pastikan Pasokan Biodiesel Aman
Indonesia melangkah ke B50
Indonesia menjadikan biodiesel sebagai salah satu instrumen utama dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Program B50 merupakan kelanjutan dari kebijakan B35 dan B40 yang telah diterapkan pada tahun-tahun sebelumnya.
Dalam skema ini, bahan bakar solar dicampur dengan 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati, terutama minyak sawit, sehingga porsi energi terbarukan menjadi lebih besar dibandingkan program sebelumnya.
Pemerintah menyatakan implementasi B50 tidak hanya bertujuan mengurangi impor solar, tetapi juga memperbesar pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku energi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan implementasi B50 mampu menghemat devisa lebih dari Rp 157 triliun sepanjang 2026 melalui pengurangan impor solar.
Selain itu, kebijakan tersebut juga diharapkan meningkatkan nilai tambah industri sawit, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta menurunkan emisi gas rumah kaca.
Di sisi teknis, pemerintah telah melakukan serangkaian uji laboratorium dan uji lapangan pada berbagai sektor, mulai dari kendaraan, alat pertanian, pertambangan, perkeretaapian, hingga pembangkit listrik.
Hasil pengujian tersebut menjadi dasar pemerintah menerapkan B50 secara nasional mulai awal Juli 2026.
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menjelaskan bahwa peningkatan kadar biodiesel selalu diikuti penyempurnaan spesifikasi biodiesel murni yang digunakan, sehingga aspek kualitas bahan bakar tetap dijaga ketika kandungan biodiesel meningkat.
Tantangan tidak berhenti pada produksi
Meski demikian, implementasi biodiesel dengan kandungan lebih tinggi juga membawa tantangan baru dari sisi teknis.
Kalangan akademisi mengingatkan, karakteristik biodiesel berbeda dengan solar berbasis fosil.
Perbedaan tersebut memengaruhi sifat fisik maupun kimia bahan bakar sehingga berpotensi memengaruhi sistem pembakaran, injeksi bahan bakar, hingga umur komponen mesin apabila tidak diantisipasi melalui rekayasa teknis yang memadai.
Beberapa karakteristik seperti densitas yang lebih tinggi, viskositas yang meningkat, kemampuan menyerap air, hingga potensi pembentukan endapan pada suhu rendah menjadi aspek yang perlu dimitigasi melalui pengendalian kualitas bahan bakar, penggunaan aditif, serta penyesuaian sistem mesin.
Karena itu, implementasi biodiesel tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga kesiapan rantai distribusi, penyimpanan, dan teknologi kendaraan yang menggunakannya.
Baca Juga: Implementasi B50 1 Juli 2026, Gapki: Kebutuhan CPO Capai 1,74 Juta Ton untuk 6 Bulan
Malaysia memperbesar peran sawit
Langkah serupa juga dilakukan Malaysia.
Mulai Juni 2026, pemerintah Malaysia resmi menerapkan biodiesel B15 secara nasional dengan meningkatkan campuran biodiesel berbasis minyak sawit dari sebelumnya 10 persen menjadi 15 persen.
Pemerintah Malaysia memandang kebijakan tersebut sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi sekaligus memperbesar konsumsi minyak sawit domestik.
Dengan implementasi B15, kebutuhan minyak sawit untuk sektor energi diperkirakan meningkat dibandingkan saat masih menerapkan B10.
Pemerintah Negeri Jiran juga menegaskan bahwa peningkatan konsumsi domestik tersebut telah diperhitungkan sehingga tidak mengganggu komitmen ekspor minyak sawit yang selama ini menjadi salah satu penyumbang devisa negara.
Di sisi lain, implementasi B15 diposisikan sebagai tahapan menuju penerapan B20 secara lebih luas pada masa mendatang.
Untuk mendukung agenda tersebut, Malaysia mulai memperkuat kapasitas industri biodiesel serta infrastruktur distribusi.
Thailand mengurangi ketergantungan impor minyak
Thailand menghadapi tantangan yang berbeda.
Sebagian besar kebutuhan minyak negara tersebut masih bergantung pada impor sehingga setiap gejolak harga minyak dunia langsung memengaruhi biaya energi domestik.
Karena itu, pemerintah Thailand mulai mendorong penggunaan biodiesel B20 dan gasohol E20 sebagai pilihan utama bagi masyarakat.
Pemerintah juga memberikan dukungan harga melalui mekanisme subsidi agar kedua jenis bahan bakar tersebut lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar konvensional.
Selain mengurangi impor minyak, kebijakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan permintaan terhadap komoditas pertanian domestik seperti kelapa sawit, tebu, dan singkong yang menjadi bahan baku biofuel.
Namun demikian, pemerintah Thailand juga masih menghadapi tantangan berupa biaya produksi biofuel yang relatif lebih tinggi dibandingkan bahan bakar fosil serta masih adanya keraguan sebagian konsumen terhadap performa bahan bakar campuran tersebut.
Vietnam memperluas penggunaan E10
Vietnam juga mulai memperluas penggunaan bensin E10 secara nasional.
Pada tahap awal implementasi, perusahaan distribusi bahan bakar memastikan pasokan etanol dan infrastruktur pencampuran tersedia sehingga distribusi dapat berjalan tanpa gangguan berarti.
Pemerintah Vietnam juga menilai sebagian besar kendaraan yang beredar di negaranya telah memenuhi standar untuk menggunakan bahan bakar E10 tanpa memerlukan modifikasi teknis.
Meski demikian, tantangan tetap muncul dari sisi pasokan etanol domestik yang belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan jangka panjang sehingga sebagian bahan baku masih perlu diimpor.
Di sisi lain, pemerintah juga terus melakukan sosialisasi guna meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas dan keamanan penggunaan bahan bakar E10.
Tonton: Manufaktur Indonesia Makin Tertekan! Order Turun, Ekspansi Ditunda
Ketahanan energi jadi benang merah
Apabila dibandingkan, setiap negara memang menggunakan pendekatan yang berbeda.
Indonesia dan Malaysia mengandalkan minyak sawit sebagai basis biodiesel.
Thailand mengembangkan biodiesel sekaligus bioetanol berbasis tebu dan singkong.
Vietnam lebih fokus memperluas penggunaan bensin campuran etanol.
Namun, benang merahnya sama.
Negara-negara Asia Tenggara berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil, memperbesar pemanfaatan sumber daya domestik, serta memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian pasar energi global.
Pada saat yang sama, kebijakan biofuel juga dipandang sebagai instrumen untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, memperkuat industri hilir, serta mendukung agenda transisi menuju energi yang lebih rendah emisi.
Di balik ambisi tersebut, masing-masing negara tetap menghadapi tantangan yang tidak ringan, mulai dari kesiapan pasokan bahan baku, infrastruktur distribusi, biaya produksi, penerimaan konsumen, hingga kesiapan teknologi kendaraan dan mesin.
Perkembangan kebijakan biofuel di Asia Tenggara menunjukkan transisi energi di kawasan tidak hanya bertumpu pada kendaraan listrik atau pembangkit energi terbarukan, tetapi juga melalui optimalisasi sumber daya pertanian yang selama ini menjadi kekuatan ekonomi negara-negara di kawasan.
Dengan karakteristik ekonomi yang masih bergantung pada sektor agrikultur dan tingginya kebutuhan energi untuk transportasi maupun industri, biofuel menjadi salah satu pilihan yang dinilai mampu menjembatani kebutuhan menjaga ketahanan energi sekaligus meningkatkan pemanfaatan komoditas domestik.
Sumber:
https://money.kompas.com/read/2026/07/06/184542426/bukan-hanya-indonesia-negara-negara-asia-tenggara-kini-berebut-biofuel
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













