kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Tak ada reformasi struktural, ekonomi akan stagnan


Kamis, 03 April 2014 / 19:00 WIB
ILUSTRASI. Jangan sampai ketinggalan kereta, catat jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Jumat 11 November 2022


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Reformasi struktural menjadi syarat mendasar dan utama bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik dan berkelanjutan. Kalau hal itu bisa dilakukan maka Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 mendatang bisa mencapai 6,5%.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengatakan penguatan modal dasar pembangunan mulai dari infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), institusi, dan teknologi menjadi elemen yang perlu ditingkatkan menuju pertumbuhan 6,5%.

"Kalau reformasi struktural tidak dilakukan maka pertumbuhan maksimal 6% saja," ujar Juda dalam Bincang-Bincang Media di Jakarta, Kamis (3/4).

Menurut Juda, yang menjadi kendala fundamental perekonomian Indonesia adalah kapasitas produksi nasional. Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi tinggi yang menimbulkan ketidakseimbangan makro ekonomi karena bersumber dari impor.

Kenaikan permintaan barang dan jasa tidak diimbangi dengan kapasitas produksi nasional dari sisi investasi, industri dan perdagangan serta infrastruktur. Inilah yang kemudian membawa Indonesia pada permasalahan current account deficit atawa defisit transaksi berjalan dan berpotensi terjebak dalam negara berpendapatan menengah. "Masalah inilah yang harus kita selesaikan," tandas Juda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×