kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.689.000   -24.000   -0,88%
  • USD/IDR 18.012   53,00   0,30%
  • IDX 5.886   -16,34   -0,28%
  • KOMPAS100 775   -7,40   -0,95%
  • LQ45 587   -2,64   -0,45%
  • ISSI 201   -0,63   -0,31%
  • IDX30 334   -0,77   -0,23%
  • IDXHIDIV20 414   0,55   0,13%
  • IDX80 88   -0,64   -0,72%
  • IDXV30 110   -0,60   -0,54%
  • IDXQ30 108   0,47   0,44%

Swap Currency(BCSA) Efektif Jadi Lapisan Pertahanan Tambahan di Tengah Tekanan Rupiah


Kamis, 11 Juni 2026 / 20:05 WIB
Swap Currency(BCSA) Efektif Jadi Lapisan Pertahanan Tambahan di Tengah Tekanan Rupiah
ILUSTRASI. Rupiah Terlemah Sepanjang Masa (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mengatakan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) atau perjanjian pertukaran mata uang bilateral dapat digunakan sebagai salah satu bantalan tambahan apabila tekanan di pasar valuta asing (valas) membesar.

Namun, menurutnya, fungsi instrumen tersebut perlu dipahami secara tepat.

Josua menjelaskan, BCSA bukan alat utama untuk memperkuat nilai tukar rupiah secara harian seperti intervensi valas biasa.

Fungsinya lebih sebagai jaring pengaman dengan menyediakan akses likuiditas dalam mata uang negara mitra, memperkuat kepercayaan pasar bahwa Bank Indonesia (BI) memiliki tambahan amunisi, mendukung transaksi perdagangan dan investasi dengan mata uang lokal, serta mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi bilateral.

"Dalam kondisi sekarang, BCSA boleh saja disiapkan atau bahkan digunakan secara terbatas apabila tekanan likuiditas valas meningkat tajam, tetapi komunikasinya harus hati-hati," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).

Ia mengingatkan, apabila diumumkan secara tidak tepat, pasar bisa salah membaca bahwa cadangan devisa Indonesia sudah berada dalam kondisi tertekan serius, padahal kondisinya masih memadai. Karena itu, BCSA lebih baik ditempatkan sebagai bantalan berjaga-jaga, bukan sebagai tanda darurat.

Baca Juga: Perkuat Rupiah, Bank Indonesia dan PBOC Sepakat Kerjasama Swap Currency (BCSA)

Menurutnya, penggunaan BCSA akan lebih efektif bila diarahkan untuk memastikan pasokan valas tetap tersedia, mendukung transaksi perdagangan dengan negara mitra, dan menambah keyakinan pasar bahwa BI masih memiliki banyak lapis pertahanan.

Josua mengatakan, efek BCSA terhadap nilai tukar rupiah cenderung tidak langsung. Dampak positifnya muncul dari peningkatan kepercayaan karena pasar melihat BI memiliki akses tambahan terhadap likuiditas luar negeri. Namun, BCSA tidak otomatis menarik dana asing masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) maupun saham.

"Untuk menarik dana asing, investor tetap membutuhkan imbal hasil yang menarik, risiko yang terkendali, kebijakan fiskal yang kredibel, dan kepastian arah kebijakan. Jadi, BCSA adalah pelengkap, bukan pengganti kenaikan suku bunga, intervensi valas, SRBI, cadangan devisa, dan reformasi kebijakan," katanya.

Karena itu, Josua menilai kenaikan BI Rate ke level 5,50% sudah tepat sebagai langkah awal yang tegas untuk menahan tekanan rupiah dan memperkuat daya tarik aset rupiah.

Menurutnya, BI juga masih memiliki ruang menaikkan suku bunga apabila tekanan berlanjut, tetapi langkah tersebut sebaiknya berbasis data dan tidak terlalu agresif agar tidak merusak momentum pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Jaga Rupiah dan Inflasi, BI Kerek Suku Bunga Acuan 25 Bps dan Rilis Insentif Swap 10%

"BCSA dapat menjadi jaring pengaman tambahan, terutama untuk menjaga keyakinan pasar dan likuiditas valas, tetapi tidak boleh dijadikan alat utama," ujar Josua.

Ia menegaskan, kunci stabilisasi rupiah tetap berada pada kombinasi kebijakan moneter yang tegas, fiskal yang disiplin, komunikasi yang kredibel, dan kepastian kebijakan yang mampu memulihkan kepercayaan investor.

Lebih lanjut, Josua mengatakan BCSA juga berperan memperkuat kerja sama bilateral, mendukung transaksi perdagangan dan investasi dengan mata uang mitra, serta mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam jangka menengah.

Dengan demikian, menurutnya BCSA lebih tepat diposisikan sebagai instrumen pelengkap untuk memperluas sumber likuiditas dan memperkuat ketahanan eksternal.

"Apabila BI mengomunikasikan ketersediaan fasilitas tersebut sebagai pagar pengaman atau lapisan pertahanan tambahan, langkah itu justru dapat memberikan sentimen positif bagi pasar," ujar Josua.

Menurutnya, hal tersebut akan memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa BI masih memiliki instrumen tambahan di luar cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Baca Juga: BI dan Bank of Korea Perpanjang Swap Mata Uang Lokal Hingga Rp 115 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×