kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -50.000   -1,86%
  • USD/IDR 17.867   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.394   -55,70   -0,86%
  • KOMPAS100 825   -5,54   -0,67%
  • LQ45 627   -3,56   -0,56%
  • ISSI 224   -2,66   -1,17%
  • IDX30 351   -1,55   -0,44%
  • IDXHIDIV20 428   -1,09   -0,25%
  • IDX80 94   -0,66   -0,69%
  • IDXV30 119   -0,38   -0,32%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,55%

BI Rate Diproyeksi Tetap 5,75%, Tapi Risiko Pengetatan Masih Terbuka


Rabu, 19 Agustus 2026 / 19:28 WIB
BI Rate Diproyeksi Tetap 5,75%, Tapi Risiko Pengetatan Masih Terbuka
ILUSTRASI. Logo Bank Indonesia (BI) di gedung BI, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga BI di 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026. Keputusan ini tetap konsisten dengan upaya BI untuk memperkuat stabilitas rupiah, menjaga inflasi dalam kisaran targetnya, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, keputusan suku bunga kebijakan BI akan tetap sangat bergantung pada lanskap makroekonomi global dan domestik yang terus berkembang.

Dari sisi eksternal, ia melihat risiko tetap tinggi. Ketegangan yang terus-menerus di Timur Tengah telah mendorong harga minyak global kembali di atas US$ 90 per barel, menghidupkan kembali kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan potensi suku bunga kebijakan global yang lebih tinggi dalam jangka waktu lama.

Meskipun indikator inflasi, pasar tenaga kerja, dan sektor riil AS terbaru menunjukkan tanda-tanda moderasi, yang mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi terhadap laju kenaikan suku bunga Fed yang lebih cepat dan agresif.

Baca Juga: Jaringan Meterai Ilegal Dibongkar, Potensi Kerugian Negara Tembus Rp 1 Triliun

“Kami percaya perbaikan ini mungkin bersifat sementara, dengan prospek yang tetap sangat tidak pasti,” tutur Josua dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).

Selain itu, Josua menambahkan, terlepas dari data yang masuk lebih lemah, komentar baru-baru ini dari beberapa pejabat The Fed menunjukkan bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan sikap hawkish, dengan inflasi tetap di atas target jangka panjangnya sebesar 2% sebagai perhatian kebijakan utama.

Adapun dari sisi domestik, ia melihat beberapa perkembangan telah memberikan latar belakang yang lebih mendukung. Inflasi telah kembali di bawah 3% year on year (yoy), sementara peningkatan arus masuk modal telah memberikan dukungan bagi rupiah.

Selanjutnya, kinerja fiskal pemerintah pada semester pertama tahun 2026 menunjukkan bahwa defisit fiskal tetap terkendali dengan baik, meskipun prospek fiskal akan terus dipengaruhi oleh harga minyak global dan pergerakan Rupiah.

Namun demikian, ia menilai meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan pertumbuhan global yang lebih lemah terus membebani neraca perdagangan Indonesia, yang telah mengalami defisit sejak Mei 2026.

Baca Juga: BNPB Update Gempa NTT: Korban Meninggal 71 Orang, Pengungsi 59.647 Jiwa

“Posisi fiskal yang relatif bijaksana telah membantu meredakan kekhawatiran atas potensi pelebaran risiko defisit ganda. Yang menggembirakan, Rupiah telah menguat hingga di bawah Rp18.000 per Dolar AS, membantu mengurangi tekanan inflasi impor,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga BI di 5,75% hingga akhir tahun 2026. Namun demikian, ia juga tidak mengesampingkan kemungkinan pengetatan moneter tambahan jika kondisi global atau domestik memburuk lebih lanjut.

“Dalam skenario terburuk kami, suku bunga BI dapat dinaikkan lebih lanjut jika kondisi global memburuk secara signifikan melebihi tekanan yang dialami selama semester pertama tahun 2026,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×