Reporter: Leni Wandira | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri Indonesia mencatat pelemahan sentimen pelaku usaha pada kuartal I-2026. Hal ini tercermin dari menurunnya proporsi pelaku usaha yang menilai kondisi bisnis membaik dibandingkan kuartal sebelumnya.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie mengatakan, hasil survei Kadin Indonesia Business Pulse menunjukkan tekanan terhadap dunia usaha masih cukup kuat, terutama akibat dinamika global.
“Akan tetapi (lonjakan harga minyak mentah dunia serta peningkatan biaya operasional) tidak dibarengi dengan kenaikan daya beli, karena lagi zaman likuiditas sangat ketat,” ujarnya di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Survei yang dilakukan pada 17 Maret hingga 5 April 2026 ini melibatkan 210 responden anggota Kadin dari 27 provinsi. Hasilnya menunjukkan adanya penurunan sentimen bisnis yang cukup signifikan.
Baca Juga: Ada Pengecekan Acak di Mekah, Jemaah Haji Diimbau Selalu Bawa Kartu Nusuk
Direktur Insight Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, mengungkapkan jumlah pelaku usaha yang menilai kondisi bisnis membaik turun dari 39,3% pada kuartal IV-2025 menjadi hanya 25,2% pada kuartal I-2026.
Sebaliknya, proporsi pelaku usaha yang menilai kondisi bisnis memburuk meningkat menjadi 40,5%, sementara yang menilai kondisi stabil juga naik menjadi 34%.
“Ini mencerminkan pelaku usaha mulai menghadapi tekanan baik dari sisi permintaan maupun biaya, dengan daya beli masyarakat yang belum pulih,” kata Fakhrul.
Penurunan sentimen juga terlihat pada persepsi terhadap kondisi industri. Responden yang menilai industri membaik turun menjadi 22,9%, dari sebelumnya 39,3%. Sementara yang menilai kondisi industri tidak membaik meningkat menjadi 44,5%.
Selain itu, rencana investasi pelaku usaha juga menunjukkan tren penurunan. Proporsi responden yang berencana melakukan investasi turun dari 47% menjadi 38,9%, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian di tengah ketidakpastian global.
Survei ini juga menyoroti meningkatnya persepsi terhadap kebijakan pemerintah sebagai tantangan bisnis. Jika pada kuartal sebelumnya hanya 0,3% responden yang menilai kebijakan sebagai hambatan, pada kuartal I-2026 angkanya melonjak menjadi 16,7%.
Baca Juga: MNC Ajukan Banding Atas Vonis Rp 531 Miliar, Sengketa Jusuf Hamka vs Hary Tanoe Panas
Kadin menilai tekanan terhadap dunia usaha dipicu kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari gangguan rantai pasok, fluktuasi harga komoditas, hingga perubahan kebijakan yang memengaruhi operasional bisnis.
Dengan kondisi tersebut, pelaku usaha cenderung memprioritaskan menjaga likuiditas dibanding ekspansi, seiring belum pulihnya permintaan pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













