kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Surplus Dagang Menyusut, Defisit Transaksi Berjalan RI Terancam Melebar


Kamis, 03 September 2026 / 16:50 WIB
Surplus Dagang Menyusut, Defisit Transaksi Berjalan RI Terancam Melebar
ILUSTRASI. Pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD) menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai dalam perekonomian Indonesia hingga akhir 2026.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai dalam perekonomian Indonesia hingga akhir 2026. Kondisi ini terjadi ketika surplus neraca perdagangan barang semakin mengecil, sementara defisit neraca jasa dan pendapatan primer masih cukup besar.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, tekanan terhadap transaksi berjalan perlu menjadi perhatian karena surplus perdagangan barang berperan penting dalam menutup defisit pada komponen transaksi berjalan lainnya.

“Yang perlu kita hadapi ke depan adalah pelebaran defisit dari current account itu sendiri di mana ketika neraca perdagangan barang kita surplusnya semakin mengecil tentunya tekanannya akan semakin besar kepada current account defisit kita,” ujar Andry dalam agenda Indonesia Economic Outlook: Building Domestic Resilience in the Midst of Global Vulnerability, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga: Purbaya Klaim Yield SBN Tak Sulit Dikendalikan Meski Pasar Global Bergejolak

Sebagai gambaran, Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 mencapai US$12,5 miliar atau 3,3% dari produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut melebar signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar US$3,6 miliar atau 1% dari PDB.

Menurut Andry, pelebaran CAD terutama perlu dilihat dari perkembangan neraca jasa dan neraca pendapatan primer. Defisit pada kedua komponen tersebut membuat surplus perdagangan barang semakin penting untuk menjaga transaksi berjalan.

“Kalau kita lihat primary income juga merefleksikan besarnya dividend payment atau income repatriation dan yang kita lihat di sini dalam beberapa periode mengalami defisit yang cukup tinggi atau meningkat,” jelasnya.

BI mencatat pada kuartal II 2026 defisit neraca jasa mencapai US$ 5,9 miliar, sementara defisit pendapatan primer sebesar US$ 9,7 miliar. Sementara itu, surplus neraca perdagangan pada Juli 2026 mencapai US$ 0,12 miliar atau US$ 120 juta, atau naik dari bulan sebelumnya yang mencatatkan defisit US$ 450 juta.

Baca Juga: Yield Obligasi Negara Maju Naik, Arus Modal ke RI Terancam Tertekan

Ia menilai, apabila surplus perdagangan barang terus menyusut, tekanan terhadap transaksi berjalan akan semakin besar karena surplus tersebut tidak lagi cukup untuk mengompensasi defisit pada neraca jasa dan pendapatan primer.

“Kalau neraca perdagangan barangnya kemudian surplusnya mengecil, tentu saja akan semakin besar dan semakin tidak bisa menutup yang namanya neraca jasa dan primary income dan akan menghasilkan defisit neraca transaksi berjalan yang semakin besar,” katanya.

Kondisi tersebut juga menjadi perhatian karena pelebaran CAD perlu diimbangi dengan aliran modal yang memadai melalui transaksi finansial. Dengan demikian, kebutuhan Indonesia terhadap surplus pada neraca finansial akan semakin besar untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran dan ketahanan eksternal.

Ia menilai, semakin besarnya defisit transaksi berjalan perlu diimbangi dengan surplus yang besar pada neraca finansial atau financial account.

Baca Juga: Tak Hanya Danantara, Purbaya Buka Peluang Swasta Hadiri Rapat KSSK

Pada kuartal II 2026, transaksi modal dan finansial Indonesia mencatat surplus US$ 12 miliar, setelah pada kuartal sebelumnya mengalami defisit US$ 4,8 miliar. Surplus tersebut terutama ditopang peningkatan aliran investasi langsung dan investasi portofolio.

Meski demikian, Andry mengingatkan kondisi eksternal masih menghadapi ketidakpastian, terutama dari perkembangan pasar keuangan global. Karena itu, kemampuan Indonesia menarik aliran modal menjadi semakin penting untuk menjaga stabilitas eksternal dan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, BI memperkirakan prospek neraca pembayaran Indonesia tetap terjaga. Bank sentral memperkirakan defisit transaksi berjalan akan lebih rendah ke depan, didukung prospek ekspor yang membaik seiring kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia serta dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×